5 Perbandingan Bayar Pakai QRIS vs Tunai: Mana Lebih Hemat?

MochiMochi
Bacaan 9 menit
bayar pakai QRIS vs tunai

Pernah nggak sih kamu berdiri di depan kasir kopi kekinian, tangan sudah memegang ponsel untuk scan kode QR, tapi tiba-tiba terhenti karena melihat lembaran uang lima puluh ribu di dompet? Dilema kecil ini sebenarnya mencerminkan perubahan besar dalam cara kita mengelola uang di era digital. Memilih antara bayar pakai QRIS vs tunai bukan lagi sekadar soal gaya-gayaan atau kepraktisan, melainkan soal strategi bertahan hidup di tengah gempuran godaan belanja yang semakin masif. Di satu sisi, QRIS menawarkan kecepatan dan promo yang menggiurkan, tapi di sisi lain, uang tunai memberikan batasan fisik yang nyata bagi pengeluaran kita.

Memasuki tahun 2026, perdebatan mengenai metode pembayaran mana yang lebih hemat semakin relevan bagi kalangan Gen Z dan milenial. Dengan pertumbuhan teknologi finansial yang begitu cepat, kita sering kali lupa bahwa cara kita membayar sangat mempengaruhi cara otak kita memproses nilai uang tersebut. Apakah kamu merasa lebih ‘ikhlas’ saat melakukan scan daripada saat merogoh kocek untuk mengeluarkan uang kertas? Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari mekanisme psikologis yang perlu kita pahami agar tidak terjebak dalam lubang pemborosan yang tidak perlu. Mari kita bedah secara mendalam perbandingan bayar pakai QRIS vs tunai agar kamu bisa menentukan mana yang benar-benar menyelamatkan saldo tabunganmu.

Psikologi Belanja: Kenapa Cara Kita Membayar Mempengaruhi Isi Dompet?

Sebelum kita masuk ke angka-angka, kita harus bicara soal apa yang terjadi di dalam otakmu saat bertransaksi. Ada sebuah konsep dalam ekonomi perilaku yang disebut sebagai ‘Pain of Paying’ atau rasa sakit saat membayar. Secara psikologis, mengeluarkan uang fisik dari dompet memicu area di otak yang berhubungan dengan rasa tidak nyaman. Kamu melihat uang itu berkurang secara fisik, kamu merasakan teksturnya, dan kamu sadar bahwa ‘kekayaan’ di tanganmu sedang berpindah tangan. Hal inilah yang sering kali menjadi rem alami bagi kita untuk tidak belanja berlebihan.

Fenomena ‘Pain of Paying’ pada uang tunai

Saat kamu membayar dengan uang tunai, prosesnya melibatkan banyak indra. Kamu harus menghitung uangnya, memastikan kembaliannya pas, dan melihat dompetmu menjadi lebih tipis. Proses yang ‘ribet’ ini sebenarnya adalah keuntungan tersembunyi. Ribet berarti lambat, dan lambat berarti kamu punya waktu ekstra untuk berpikir: “Apakah barang ini benar-benar saya butuhkan?”. Rasa sakit ini jauh lebih terasa pada transaksi tunai dibandingkan digital. Studi psikologi menunjukkan bahwa orang cenderung menghabiskan uang 20% hingga 30% lebih banyak ketika menggunakan metode non-tunai karena hambatan psikologis ini hilang.

Efek ‘Invisible Money’ saat scan QRIS

Sebaliknya, bayar pakai QRIS vs tunai sering kali terasa seperti ‘uang mainan’ atau uang yang tidak nyata (invisible money). Saat kamu melakukan scan, yang kamu lihat hanyalah angka di layar ponsel. Tidak ada gesekan fisik, tidak ada uang yang berpindah secara visual dari tangan ke tangan. Prosesnya terlalu mulus—hanya butuh waktu kurang dari 5 detik untuk menyelesaikan transaksi. Kemudahan ini sering kali mematikan logika penghematan kita. Otak kita tidak merasakan ‘sakit’ yang sama, sehingga kita lebih mudah untuk menambah pesanan atau memilih opsi add-on yang sebenarnya tidak penting.

Fact: Volume transaksi QRIS di Indonesia hingga kuartal ketiga — 10,33 miliar transaksi (2025) — Source: Bank Indonesia

5 Perbandingan Utama Bayar Pakai QRIS vs Tunai

Untuk memahami mana yang lebih menguntungkan bagi kantongmu, kita perlu melihat dari berbagai sudut pandang praktis. Berikut adalah lima poin utama yang membedakan bayar pakai QRIS vs tunai dalam kehidupan sehari-hari.

1. Kemudahan Tracking: Manual vs Otomatis

Salah satu keunggulan mutlak QRIS adalah pencatatan otomatis. Setiap kali kamu bertransaksi, riwayatnya langsung tersimpan di aplikasi e-wallet atau m-banking milikmu. Ini sangat membantu bagi kamu yang sering lupa ke mana perginya uang jajan bulanan. Namun, bahayanya adalah ‘pasifitas’. Karena sudah tercatat otomatis, banyak orang justru jadi malas mengevaluasi pengeluaran mereka di akhir bulan.

Di sisi lain, uang tunai mengharuskan kamu melakukan pencatatan manual yang disiplin. Jika kamu tidak mencatatnya, uang tunai sering kali menjadi ‘pengeluaran gaib’—tiba-tiba dompet kosong tanpa tahu buat apa saja. Namun, jika kamu rajin mencatat, uang tunai memberikan kontrol yang lebih ketat karena kamu tahu persis berapa sisa uang fisik yang ada di kantongmu saat itu juga.

2. Cashback & Promo: Keuntungan atau Jebakan?

QRIS identik dengan promo cashback atau diskon khusus pengguna aplikasi tertentu. Secara logika, ini tentu lebih hemat. Membeli kopi seharga Rp30.000 dengan cashback 10% jelas lebih murah daripada membayar Rp30.000 tunai tanpa promo. Namun, pertanyaannya: Apakah kamu akan membeli kopi itu jika tidak ada promo? Banyak orang terjebak dalam perilaku konsumtif hanya karena mengejar promo cashback yang sebenarnya nilainya tidak seberapa dibandingkan total uang yang dikeluarkan.

3. Biaya Tersembunyi: Admin, Top-up, dan MDR

Banyak pengguna yang tidak sadar bahwa bayar pakai QRIS vs tunai juga melibatkan biaya-biaya kecil yang jika dikumpulkan bisa menjadi besar.

  • Top-up Fee: Beberapa e-wallet mengenakan biaya Rp500 hingga Rp1.500 setiap kali isi saldo.
  • MDR (Merchant Discount Rate): Meskipun biasanya dibebankan ke pedagang, ada beberapa toko nakal yang menambahkan biaya ini ke pembeli.
  • Uang Parkir & Tips: Uang tunai masih merajai untuk transaksi kecil seperti parkir atau tips kurir. Jika kamu hanya mengandalkan QRIS, kamu mungkin akan kesulitan di situasi-situasi mendadak seperti ini.

4. Keamanan: Risiko Hilang vs Risiko Hack

Keamanan uang tunai bersifat fisik. Jika dompetmu hilang, uangmu hilang. Tidak ada cara untuk mengembalikannya. Namun, QRIS membawa risiko digital. Meskipun aman dengan PIN dan biometrik, risiko akun diretas atau terkena skimming digital tetap ada. Selain itu, ketergantungan pada koneksi internet dan baterai ponsel menjadi titik lemah QRIS. Jika sinyal drop atau baterai habis di saat genting, uang digitalmu tidak akan berguna sama sekali.

5. Kecepatan Transaksi di Kasir

Dalam hal efisiensi waktu, QRIS menang telak terutama jika kamu sudah menyiapkan aplikasinya sebelum sampai di kasir. Tidak perlu menunggu kembalian atau mencari uang pas. Namun, di pasar tradisional atau warung kecil, uang tunai tetap menjadi raja karena prosesnya yang instan tanpa perlu menunggu verifikasi jaringan atau konfirmasi di layar ponsel pedagang.

Kriteria Bayar Pakai Tunai Bayar Pakai QRIS
Kontrol Pengeluaran Sangat Tinggi (Fisik) Sedang (Digital)
Pencatatan Manual Otomatis
Potensi Promo Hampir Tidak Ada Sangat Banyak
Biaya Tambahan Tidak Ada Top-up & Admin
Keamanan Risiko Kecopetan Risiko Cyber/Sinyal

Skenario Nyata: Makan Siang Rp50.000, Lebih Untung Mana?

Mari kita ambil contoh sederhana. Kamu ingin makan siang di sebuah food court dengan budget Rp50.000.

Skenario A: Bayar Pakai Tunai
Kamu membawa satu lembar uang Rp50.000. Kamu memilih menu nasi ayam seharga Rp35.000 dan es teh Rp10.000. Total Rp45.000. Sisa Rp5.000 di dompetmu. Kamu merasa puas karena masih ada sisa uang fisik. Kamu cenderung tidak akan membeli camilan tambahan karena sisa Rp5.000 terasa ‘sedikit’. Di sini, uang tunai membantumu mematuhi anggaran bulanan yang sudah kamu buat.

Skenario B: Bayar Pakai QRIS
Kamu melihat ada promo cashback 20% (maksimal Rp5.000) jika bertransaksi minimal Rp60.000. Akhirnya, agar dapat promo, kamu menambah pesanan gorengan atau dessert sehingga total belanja menjadi Rp62.000.

  • Total belanja: Rp62.000
  • Cashback: Rp5.000
  • Total keluar uang: Rp57.000

Secara teknis, kamu mendapatkan makanan lebih banyak. Tapi secara finansial, kamu mengeluarkan Rp57.000, padahal niat awalmu hanya ingin makan siang dengan Rp50.000. Inilah contoh klasik bagaimana QRIS bisa merusak rencana keuanganmu jika kamu tidak waspada terhadap jebakan psikologis promo.

Bahaya Tersembunyi: Saat QRIS Malah Bikin Dompet Bocor Halus

Istilah ‘bocor halus’ sangat pas disematkan pada penggunaan QRIS yang tidak terkontrol. Karena kemudahannya, transaksi kecil seperti beli air mineral Rp3.000, bayar parkir Rp2.000, atau jajan cilok Rp5.000 sering kali tidak terasa sebagai pengeluaran berarti. Padahal, jika dijumlahkan dalam sebulan, totalnya bisa mencapai ratusan ribu rupiah.

Impulse buying karena terlalu mudah

Fitur ‘one-click’ atau scan langsung bayar menghilangkan jeda waktu bagi otak untuk berpikir rasional. Saat melihat barang lucu di bazar, tangan kita secara refleks membuka aplikasi e-wallet. Kecepatan inilah musuh utama penghematan. Untuk mengatasinya, kamu membutuhkan bantuan teknologi lain yang bisa mengerem nafsu belanjamu, seperti menggunakan aplikasi pengatur keuangan untuk membatasi saldo di e-wallet setiap minggunya.

Saldo mengendap di berbagai e-wallet

Apakah kamu punya saldo Rp10.000 di GoPay, Rp15.000 di OVO, Rp5.000 di ShopeePay, dan Rp20.000 di Dana? Ini adalah masalah umum. Uang yang mengendap ini sering kali terlupakan dan akhirnya habis untuk hal-hal kecil yang tidak terencana. Mengonsolidasikan saldo ke satu atau dua platform utama adalah langkah cerdas agar kamu lebih mudah mengawasi arus keluar masuk uangmu.

Lupa mencatat pengeluaran kecil

Banyak orang berpikir, “Ah, cuma lima ribu, nggak usah dicatat lah.” Padahal, kebocoran finansial terbesar justru berasal dari pengeluaran-pengeluaran kecil yang terakumulasi. Inilah alasan mengapa digitalisasi pembayaran harus dibarengi dengan digitalisasi pencatatan yang disiplin.

Fact: Volume transaksi QRIS di Indonesia sepanjang tahun — 6,24 miliar transaksi (2024) — Source: Bank Indonesia

FAQ: Hal yang Sering Ditanyakan Soal Kehematan QRIS

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang sering muncul di kalangan anak muda terkait perbandingan bayar pakai QRIS vs tunai.

Apakah bayar QRIS dikenakan biaya tambahan bagi pembeli?
Secara resmi, Bank Indonesia melarang pedagang membebankan biaya MDR kepada pembeli. Namun, biaya top-up saldo dari rekening bank ke e-wallet adalah biaya nyata yang harus kamu tanggung. Jika kamu sering top-up dalam jumlah kecil, biaya admin ini bisa menjadi pemborosan tersendiri.

Lebih baik mana: Isi saldo banyak atau pas-pasan?
Isi saldo secukupnya sesuai rencana belanja mingguan adalah pilihan terbaik. Jika saldo di e-wallet terlalu banyak, kamu akan merasa ‘kaya’ dan cenderung lebih impulsif. Ini adalah salah satu tips dasar dalam cara menabung untuk pemula agar tidak mudah tergoda diskon mendadak.

Bagaimana cara membatasi diri agar tidak boros saat pakai QRIS?
Aktifkan notifikasi pengeluaran, pisahkan rekening bank utama dengan rekening e-wallet, dan yang terpenting: berikan jeda 10 menit sebelum melakukan scan untuk barang yang sifatnya keinginan, bukan kebutuhan.

Apakah uang tunai akan benar-benar hilang?
Kemungkinan besar tidak dalam waktu dekat. Uang tunai tetap menjadi instrumen penting untuk inklusi keuangan dan cadangan saat sistem digital mengalami gangguan. Namun, perannya memang akan terus tergeser oleh QRIS di wilayah perkotaan.

Cara Tetap Hemat Apapun Metode Bayarnya

Kesimpulannya, baik bayar pakai QRIS vs tunai, keduanya hanyalah alat. Alat ini bisa membantumu lebih hemat jika digunakan dengan bijak, atau justru menjerumuskanmu ke dalam hutang jika digunakan tanpa kontrol. Kunci utamanya bukan pada metodenya, melainkan pada kesadaranmu terhadap setiap rupiah yang keluar.

Untuk kamu yang ingin mulai serius membenahi keuangan, mulailah dengan langkah sederhana: mencatat setiap transaksi segera setelah terjadi. Jangan menunggu sampai akhir hari atau akhir minggu, karena ingatan kita sangat terbatas untuk hal-hal detail seperti ini. Dengan mencatat, kamu akan sadar akan pola belanjamu sendiri—apakah kamu lebih boros saat pegang uang tunai atau saat pakai QRIS.

Jika kamu merasa kewalahan dengan pencatatan manual, menggunakan aplikasi seperti MoneyKu bisa menjadi solusi yang sangat membantu. MoneyKu didesain untuk membuat proses logging pengeluaran menjadi secepat kilat (bahkan lebih cepat dari proses scan QRIS itu sendiri!). Dengan fitur kategori yang jelas dan ringkasan visual yang menarik, kamu tidak akan lagi merasa terbebani untuk memantau sisa budgetmu. Ingat, tujuan akhir dari mengelola uang bukan untuk membatasi kebahagiaanmu, tapi untuk memastikan bahwa uangmu bekerja untuk masa depanmu, bukan habis untuk keinginan sesaat di depan meja kasir.

Share

Postingan Terkait

dana darurat mahasiswa

Siapkan Dana Darurat Mahasiswa: 5 Langkah Jitu!

Menjadi mahasiswa adalah masa-masa penuh tantangan sekaligus peluang. Di tengah kesibukan kuliah, organisasi, dan mungkin pekerjaan sampingan, satu hal krusial yang sering terlupakan adalah kesiapan menghadapi ketidakpastian finansial. Ya, kita bicara tentang dana darurat mahasiswa. Mungkin terdengar sepele, tapi memiliki dana darurat adalah kunci utama untuk menjaga kestabilan finansial dan ketenangan pikiran selama masa studi. […]

Baca selengkapnya
budgeting 50/30/20 vs amplop

Budgeting 50/30/20 vs Amplop: Mana Lebih Baik untuk Gen Z?

Generasi Z (Gen Z) punya cara unik dalam memandang uang. Mereka tumbuh di era digital yang serba cepat, di mana pengeluaran bisa dilakukan semudah menggeser layar ponsel. Menghadapi berbagai godaan belanja dan kebutuhan yang terus berubah, punya strategi pengelolaan uang yang tepat jadi kunci. Dua metode budgeting yang sering dibicarakan adalah budgeting 50/30/20 vs amplop. […]

Baca selengkapnya
cara menabung beli gadget impian

5 Cara Cerdas Menabung Beli Gadget Impianmu

Ingin punya gadget impian tapi dompet rasanya belum siap? Tenang, kamu tidak sendirian! Banyak anak muda seperti kita yang punya angan-angan canggih, mulai dari smartphone terbaru sampai laptop gaming impian. Namun, mewujudkan keinginan ini seringkali terasa berat karena harganya yang fantastis. Kabar baiknya, bukan berarti tidak mungkin! Dengan strategi yang tepat dan sedikit kedisiplinan, impian […]

Baca selengkapnya