Pernah nggak sih kamu lagi santai scroll media sosial, lalu tiba-tiba ada iklan lucu di marketplace, dan lima menit kemudian kamu sudah menekan tombol “Bayar Sekarang”? Fenomena ini sangat umum, tapi kalau dibiarkan, saldo tabungan bisa ludes dalam sekejap. Mempelajari cara mengontrol pengeluaran impulsive buying di marketplace bukan hanya soal berhemat, tapi soal mengambil kendali atas masa depan finansialmu agar tidak terjebak dalam siklus “gaji numpang lewat” setiap bulannya. Di era digital ini, godaan belanja bukan lagi datang dari etalase toko fisik, melainkan dari notifikasi handphone yang muncul setiap saat, menawarkan diskon yang seolah-olah tidak boleh dilewatkan. Memahami pola ini adalah langkah pertama untuk menjadi lebih bijak dalam mengelola uang.
Kenapa Scroll Marketplace Bisa Bikin Dompet Kritis?
Belanja online telah berubah dari sekadar kegiatan transaksional menjadi bentuk hiburan instan. Ada alasan psikologis kuat mengapa kita sulit berhenti menekan tombol checkout. Saat kita melihat barang yang kita inginkan—atau bahkan barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan tapi terlihat menarik—otak kita melepaskan zat kimia bernama dopamin. Fenomena ini sering disebut sebagai “Dopamine Hit”. Dopamin inilah yang menciptakan rasa senang dan kegembiraan sesaat, bahkan sebelum barang tersebut sampai ke tangan kita. Sayangnya, rasa senang ini bersifat sementara dan sering kali diikuti oleh rasa penyesalan atau buyer’s remorse ketika kita melihat saldo rekening yang berkurang drastis.
Selain faktor psikologis internal, platform marketplace juga menggunakan berbagai taktik marketing yang sangat canggih untuk memicu perilaku impulsif. Fitur seperti “Flash Sale” dengan countdown timer menciptakan rasa urgensi palsu, seolah-olah kita akan rugi besar jika tidak membeli saat itu juga. Belum lagi promo “Gratis Ongkir dengan Minimal Belanja” yang sering kali membuat kita menambah barang-barang tidak penting hanya demi menghemat biaya kirim yang sebenarnya tidak seberapa dibandingkan harga barang tambahan tersebut. Algoritma marketplace juga terus memantau preferensi kita, sehingga barang yang muncul di beranda adalah hal-hal yang paling mungkin membuat kita tergoda. Tanpa strategi cara mengontrol pengeluaran impulsive buying di marketplace, kita akan terus menjadi target empuk dari strategi pemasaran digital ini.
Fact: Pertumbuhan nominal transaksi layanan Buy Now Pay Later (BNPL) yang menjadi pendorong utama belanja impulsif di Indonesia — 31,82 percent (April 2025) — Source: Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
7 Cara Mengontrol Pengeluaran Impulsive Buying di Marketplace
Menghadapi gempuran promo memang tidak mudah, tapi bukan berarti mustahil. Berikut adalah langkah-langkah konkret yang bisa kamu terapkan mulai hari ini untuk menjaga kesehatan dompetmu:
1. Hapus Data Kartu Kredit dan Metode Pembayaran Instan
Salah satu alasan utama kita belanja impulsif adalah karena prosesnya yang terlalu mudah. Dengan fitur one-click payment atau penyimpanan data kartu kredit dan e-wallet secara otomatis, hambatan untuk mengeluarkan uang hampir tidak ada. Untuk mengatasinya, cobalah untuk menghapus semua data pembayaran yang tersimpan di aplikasi marketplace. Dengan mengharuskan diri sendiri memasukkan nomor kartu atau melakukan top-up manual setiap kali ingin belanja, kamu memberikan waktu bagi otak logismu untuk berpikir kembali. Hambatan kecil ini sering kali cukup untuk membatalkan niat belanja yang tidak terencana.
2. Terapkan ‘Aturan 24 Jam’ Sebelum Menekan Tombol Checkout
Setiap kali kamu merasa sangat ingin membeli sesuatu yang tidak ada dalam daftar belanjaan, jangan langsung bayar. Masukkan barang tersebut ke keranjang, lalu tinggalkan aplikasi selama minimal 24 jam. Aturan ini sangat efektif sebagai cara mengontrol pengeluaran impulsive buying di marketplace karena memberikan waktu bagi lonjakan dopamin untuk mereda. Biasanya, setelah satu hari berlalu, keinginan menggebu-gebu tersebut akan hilang, dan kamu akan menyadari bahwa barang tersebut sebenarnya tidak terlalu penting. Untuk barang yang lebih mahal, kamu bahkan bisa menerapkan aturan 30 hari untuk memastikan keputusan tersebut matang.
3. Unsubscribe Newsletter dan Matikan Notifikasi Promo
“Out of sight, out of mind.” Jika kamu tidak melihat promo, kamu tidak akan tergoda. Marketplace sangat rajin mengirimkan email newsletter dan push notification yang berisi penawaran menggoda. Langkah drastis namun efektif adalah dengan mematikan semua notifikasi dari aplikasi marketplace di pengaturan handphone-mu. Selain itu, luangkan waktu untuk melakukan unsubscribe dari email-email promosi yang memenuhi inbox. Dengan mengurangi stimulus visual tentang barang-barang baru, kamu secara otomatis mengurangi frekuensi keinginan untuk membuka aplikasi belanja tersebut.
4. Buat Rekening Khusus ‘Jajan’ Agar Tabungan Utama Tidak Terganggu
Banyak orang gagal menahan diri karena mereka mencampuradukkan uang untuk kebutuhan pokok dengan uang untuk kesenangan. Sebagai bagian dari manajemen keuangan yang sehat, sebaiknya kamu memisahkan budget belanja hobi atau ‘jajan’ ke rekening atau kantong digital tersendiri. Tentukan nominal yang masuk akal setiap bulannya, misalnya 10% dari penghasilan. Jika uang di rekening jajan tersebut sudah habis, maka tidak ada lagi belanja di marketplace sampai bulan depan. Cara ini membantu kamu tetap bisa menikmati hasil kerja keras tanpa harus mengorbankan dana darurat atau tabungan masa depan.
5. Gunakan Fitur Wishlist sebagai Filter Kebutuhan
Daripada langsung memasukkan barang ke keranjang (shopping cart), gunakanlah fitur wishlist. Anggap wishlist sebagai tempat penampungan sementara. Secara psikologis, memasukkan barang ke wishlist terkadang sudah memberikan sedikit kepuasan seperti berbelanja, tapi tanpa mengeluarkan uang. Setiap akhir bulan, tinjau kembali daftar tersebut dan lakukan kurasi ketat untuk membedakan kebutuhan dan keinginan. Kamu akan terkejut melihat betapa banyak barang yang bulan lalu terasa sangat penting, sekarang terasa biasa saja atau bahkan tidak berguna sama sekali.
6. Hindari Membuka Aplikasi Marketplace Saat Bosan atau Sedih
Emotional spending adalah musuh terbesar tabungan. Banyak dari kita menjadikan belanja online sebagai pelarian saat merasa bosan, kesepian, atau stres setelah seharian bekerja. Marketplace bukanlah tempat hiburan. Jika kamu merasa sedang dalam kondisi emosional yang tidak stabil, jauhkan handphone dan cari kegiatan lain yang tidak melibatkan transaksi uang, seperti membaca buku, berolahraga, atau sekadar jalan-jalan sore. Mempelajari cara mengontrol pengeluaran impulsive buying di marketplace juga berarti belajar mengenali pemicu emosional di balik keinginan belanja kita.
7. Hitung ‘Biaya Kerja’ dari Barang yang Ingin Dibeli
Sebelum membayar, cobalah konversikan harga barang tersebut ke dalam jam kerja kamu. Misalnya, jika gaji per jam kamu adalah Rp50.000 dan kamu ingin membeli sepatu seharga Rp500.000, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah sepatu ini layak ditukar dengan 10 jam kerja keras saya?” Sering kali, perspektif ini akan membuat kamu berpikir dua kali. Melihat nilai barang dalam bentuk tenaga dan waktu yang kamu korbankan adalah cara ampuh untuk meredam impulsivitas dan memastikan setiap rupiah yang keluar benar-benar bernilai.
Skenario: Menghadapi Godaan Promo Tanggal Kembar Tanpa Menyesal
Mari kita bayangkan dua skenario berbeda saat menghadapi event promo besar seperti 11.11 atau 12.12. Skenario ini akan menunjukkan betapa pentingnya memiliki cara mengontrol pengeluaran impulsive buying di marketplace yang sudah terencana.
Skenario A (Tanpa Kontrol):
Budi sedang asyik scroll HP di malam hari. Tiba-tiba muncul notifikasi “Flash Sale Diskon 70% tinggal 10 menit!”. Budi panik, merasa akan rugi jika tidak beli. Tanpa berpikir panjang, dia memilih jam tangan keren yang sebenarnya dia sudah punya yang mirip. Karena data Paylater sudah tersimpan, dia tinggal klik dua kali. Keesokan harinya, Budi tersadar saldo tabungannya menipis dan dia harus menghemat uang makan selama dua minggu ke depan.
Skenario B (Dengan Kontrol):
Siska juga melihat promo yang sama. Namun, Siska sudah mematikan notifikasi dan hanya membuka marketplace karena dia memang butuh detergen yang habis. Dia melihat iklan jam tangan yang sama dengan Budi. Alih-alih langsung beli, Siska memasukkannya ke wishlist dan menerapkan aturan 24 jam. Dia juga mengecek budget di aplikasi pencatat keuangan harian miliknya. Siska menyadari bahwa budget jajan bulan ini sudah hampir habis. Keesokan harinya, Siska merasa lega karena tidak jadi membeli jam tangan tersebut dan uangnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih mendesak.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa perbedaan antara penyesalan dan ketenangan finansial hanya terletak pada sistem pertahanan yang kita buat sendiri.
Kesalahan Fatal yang Malah Bikin Kamu Tambah Boros
Dalam upaya mencoba cara mengontrol pengeluaran impulsive buying di marketplace, banyak orang justru terjebak dalam kesalahan yang tampaknya seperti berhemat, padahal justru membuat pengeluaran membengkak.
- Menganggap Paylater sebagai ‘Uang Tambahan’: Ini adalah jebakan paling berbahaya. Fitur Paylater seharusnya digunakan untuk kemudahan transaksi, bukan sebagai sumber dana ekstra di luar kemampuan. Menggunakan Paylater tanpa perhitungan yang matang akan menumpuk bunga dan denda yang bisa merusak skor kredit kamu di masa depan.
- Membeli Barang ‘Diskon’ yang Sebenarnya Tidak Diperlukan: Ingat, kamu tidak “hemat 100 ribu” jika membeli barang diskon seharga 400 ribu yang tidak kamu butuhkan. Kamu justru “boros 400 ribu”. Diskon hanyalah cara untuk membuat barang yang tidak laku menjadi menarik kembali di mata konsumen.
- Tidak Melakukan Tracking Pengeluaran Kecil secara Rutin: Banyak orang hanya mencatat pengeluaran besar seperti sewa kost atau cicilan motor, tapi mengabaikan belanja kecil di marketplace senilai Rp20.000 – Rp50.000. Masalahnya, pengeluaran kecil ini jika dilakukan berulang kali bisa mencapai jutaan rupiah tanpa disadari. Tanpa pencatatan yang detail, kamu tidak akan tahu ke mana uangmu mengalir.
Fact: Persentase pangsa pasar atau dominasi pengguna layanan Buy Now Pay Later (BNPL) dari kelompok Generasi Z di Indonesia — 55 percent (2024) — Source: Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
| Kesalahan Umum | Dampak Jangka Panjang | Solusi Praktis |
|---|---|---|
| Simpan data kartu/e-wallet | Belanja terlalu mudah/cepat | Hapus data pembayaran otomatis |
| Tergiur Flash Sale | Barang menumpuk tak terpakai | Gunakan aturan 24 jam |
| Pakai Paylater tanpa limit | Terjebak utang berbunga | Set limit internal atau matikan fitur |
| Belanja saat bosan | Hubungan buruk dengan uang | Cari hobi non-konsumtif |
Cara Praktis Melacak Pengeluaran Marketplace dengan MoneyKu
Setelah kamu memahami berbagai cara mengontrol pengeluaran impulsive buying di marketplace, langkah selanjutnya adalah menggunakan alat yang tepat untuk memantau kemajuanmu. MoneyKu hadir sebagai teman setia dalam perjalanan finansialmu. Aplikasi ini dirancang khusus untuk anak muda yang ingin mengelola uang dengan cara yang simpel dan menyenangkan, tanpa harus pusing dengan tabel angka yang rumit.
Dengan MoneyKu, kamu bisa melakukan hal-hal berikut:
- Log pengeluaran ‘Self-Reward’ dalam hitungan detik: Setiap kali kamu selesai belanja di marketplace, langsung catat di MoneyKu. Fitur pencatatan cepatnya memastikan kamu tidak malas mencatat bahkan untuk nominal kecil sekalipun.
- Melihat visual summary kategori belanja online: Di akhir bulan, kamu bisa melihat grafik yang jelas tentang berapa persen uangmu yang habis untuk marketplace. Visualisasi ini sering kali menjadi wake-up call yang efektif agar bulan depan lebih berhemat.
- Set goal menabung agar punya motivasi menahan belanja: Daripada uangnya habis untuk barang impulsif, kamu bisa mengatur target tabungan di MoneyKu, misalnya untuk beli laptop baru atau liburan. Memiliki tujuan yang jelas akan membuat kamu lebih mudah berkata “tidak” pada godaan belanja sesaat.
MoneyKu membantu mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik dengan cara yang empatik dan tidak menghakimi. Dengan antarmuka yang ramah dan maskot kucing yang lucu, mencatat keuangan tidak lagi terasa seperti beban, melainkan langkah positif menuju kebebasan finansial.
Tanya-Jawab Seputar Belanja Impulsif
Berikut adalah beberapa pertanyaan yang sering muncul terkait perilaku belanja dan cara mengontrol pengeluaran impulsive buying di marketplace bagi kalangan muda.
Apa itu impulsive buying dan kenapa berbahaya?
Impulsive buying adalah perilaku membeli barang secara spontan tanpa perencanaan atau pertimbangan mendalam sebelumnya. Ini berbahaya karena bisa mengganggu stabilitas keuangan, menyebabkan utang, dan menciptakan ketergantungan emosional pada belanja sebagai cara untuk merasa bahagia.
Bagaimana cara membedakan self-reward dan pemborosan?
Self-reward adalah penghargaan untuk diri sendiri yang sudah direncanakan dan dianggarkan sebelumnya (misalnya: beli baju baru setelah berhasil menyelesaikan proyek besar). Pemborosan adalah belanja barang secara mendadak yang melebihi kemampuan finansial dan tidak memberikan nilai jangka panjang bagi kehidupanmu.
Apakah menghapus aplikasi marketplace adalah solusi terbaik?
Bagi sebagian orang, menghapus aplikasi secara permanen adalah solusi efektif untuk memutus rantai godaan. Namun, bagi yang lain, cukup dengan membatasi penggunaan dan menerapkan strategi yang telah dibahas di atas. Yang terpenting adalah membangun kontrol diri, bukan sekadar menghindari medianya.
Kapan sebaiknya saya mulai mencatat keuangan?
Jawabannya adalah: Sekarang. Tidak perlu menunggu gaji besar atau punya banyak investasi untuk mulai peduli pada uangmu. Kamu bisa mulai mencari tahu tips menabung untuk anak muda untuk membangun fondasi yang kuat sejak dini. Semakin cepat kamu mulai mencatat setiap pengeluaran, semakin cepat kamu memiliki kendali atas hidupmu.
Mengelola keuangan di tengah gempuran tren digital memang menantang, tapi dengan kesadaran dan disiplin, kamu pasti bisa mengatasinya. Ingatlah bahwa setiap kali kamu berhasil menahan diri dari belanja impulsif, kamu sebenarnya sedang berinvestasi untuk masa depanmu yang lebih tenang dan sejahtera.




