7 Kategori Pengeluaran Harian Wajib Agar Gaji Nggak Numpang Lewat

MochiMochi
Bacaan 11 menit
kategori pengeluaran harian

Pernah nggak sih kamu merasa baru saja gajian tiga hari yang lalu, tapi pas cek saldo di e-wallet atau rekening, angkanya sudah berkurang drastis? Kamu nggak sendirian. Banyak dari kita yang merasa uang habis begitu saja tanpa tahu ke mana larinya. Fenomena “gaji cuma numpang lewat” ini biasanya bukan karena penghasilan yang kurang, melainkan karena kita tidak memiliki sistem kategori pengeluaran harian yang rapi. Tanpa pengelompokan yang jelas, setiap transaksi kecil seperti kopi susu di sore hari atau biaya parkir akan terlihat tidak berarti, padahal jika dikumpulkan, jumlahnya bisa untuk membayar cicilan atau menabung. Untuk itulah, memahami cara mengelola uang untuk pemula menjadi langkah krusial agar kamu bisa memegang kendali penuh atas masa depan finansialmu.

Membuat catatan keuangan bukan sekadar menulis angka-angka di atas kertas atau di dalam aplikasi. Ini adalah tentang membangun kesadaran atau mindfulness terhadap setiap rupiah yang keluar. Masalah utama yang sering dihadapi anak muda saat ini adalah godaan gaya hidup yang sangat masif. Berdasarkan data dari Mandiri Institute, terdapat tren menarik mengenai prioritas belanja generasi muda saat ini.

Fact: Persentase minat belanja Gen Z Indonesia untuk kebutuhan pokok dibandingkan dengan kategori gaya hidup (fesyen) sebagai prioritas pengeluaran. — 51 persen (2024-2025) — Source: Mandiri Institute

Angka tersebut menunjukkan bahwa separuh dari perhatian finansial kita sudah tersedot ke gaya hidup. Jika tidak dikelola dengan kategori pengeluaran harian yang tepat, sisa 49 persen untuk kebutuhan pokok bisa jadi tidak cukup. Di sinilah peran penting kategorisasi untuk memisahkan mana yang benar-benar kebutuhan dan mana yang sekadar keinginan.

Kenapa Catatan Keuanganmu Berantakan? Masalahnya Ada di Kategori

Banyak orang mulai mencatat keuangan dengan semangat menggebu-gebu, tapi berhenti di tengah jalan setelah satu minggu. Kenapa? Karena mereka terjebak dalam mitos bahwa “semua hal harus dicatat se-detail mungkin”. Mencatat setiap butir permen yang kamu beli mungkin terdengar rajin, tapi secara praktis, ini sangat melelahkan dan bikin malas. Terlalu banyak detail justru akan menenggelamkan insight atau gambaran besar yang sebenarnya kamu butuhkan.

Mitos ‘Semua Dicatat’: Kenapa terlalu detail justru bikin malas

Bayangkan kamu harus mencatat: “Beli bakso 15rb”, “Beli es teh 5rb”, “Bayar parkir 2rb”. Besoknya kamu makan mie ayam dan melakukan hal yang sama. Dalam seminggu, catatanmu akan penuh dengan daftar makanan yang sangat panjang. Masalahnya muncul saat kamu ingin mengevaluasi: “Berapa sih total pengeluaran makanku sebulan?” Kamu harus menjumlahkan puluhan baris satu per satu. Inilah kenapa sistem kategori pengeluaran harian yang standar sangat diperlukan. Alih-alih mencatat jenis makanannya, cukup masukkan ke dalam satu kategori besar bernama “Makan & Minum”.

Di MoneyKu, fokusnya adalah pada low-friction tracking. Kamu tidak perlu menulis esai untuk setiap pengeluaran. Cukup pilih kategori, masukkan angka, selesai. Kecepatan adalah kunci agar kebiasaan mencatat ini bertahan lama.

Pentingnya standarisasi kategori untuk insight jangka panjang

Standarisasi kategori membantu kamu melihat tren. Jika bulan ini kamu merasa uang habis lebih cepat, kamu tinggal melihat grafik visual di aplikasi. Apakah kategori “Belanja Online” melonjak? Atau mungkin kategori “Social” yang membengkak karena terlalu banyak kondangan? Tanpa kategori yang konsisten, kamu tidak akan tahu di mana letak kebocoran anggaranmu. Data keuangan tanpa kategori hanyalah tumpukan angka tanpa makna. Dengan kategori yang tepat, angka-angka itu berubah menjadi cerita tentang kebiasaan hidupmu.

7 Kategori Pengeluaran Harian yang Wajib Ada di Catatan Kamu

Agar pencatatan tetap simpel tapi efektif, berikut adalah 7 kategori pengeluaran harian standar yang bisa kamu terapkan langsung hari ini.

1. Makan & Minum: Bedakan antara ‘Survival’ vs ‘Healing’

Ini adalah kategori yang paling sering digunakan. Namun, banyak yang salah kaprah dengan mencampur aduk makan siang kantor dengan makan malam mewah di akhir pekan. Untuk tahap awal, kamu bisa menyatukannya di bawah satu kategori pengeluaran harian bernama “Makan & Minum”. Tapi secara mental, kamu harus tahu mana yang merupakan biaya survival (makan untuk hidup) dan mana yang healing (ngopi cantik atau makan enak). Jika pengeluaran di kategori ini melebihi 30% dari total pengeluaranmu, mungkin saatnya mulai memikirkan meal prep atau membawa bekal dari rumah.

2. Transportasi: Biaya commuting yang sering dianggap remeh

Biaya ojek online, bensin, parkir, sampai tarif tol masuk ke sini. Seringkali kita merasa parkir 2 ribu atau 5 ribu itu kecil, tapi kalau dilakukan setiap hari di tiga tempat berbeda, jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu per bulan. Mencatat transportasi secara rutin akan membantumu mengevaluasi apakah berlangganan paket hemat di aplikasi ojol atau beralih ke transportasi umum bisa menghemat pengeluaran secara signifikan.

3. Tagihan & Langganan: Silent killer saldo tabungan

Netflix, Spotify, YouTube Premium, iCloud, hingga keanggotaan gym. Ini adalah pengeluaran yang seringkali didebit otomatis dari rekening. Karena tidak “terasa” mengeluarkan uang tunai, kita sering lupa memasukkannya ke dalam catatan kategori pengeluaran harian. Padahal, jika dikumpulkan, biaya langganan digital ini bisa cukup besar. Pastikan kamu memiliki kategori khusus untuk ini agar kamu sadar berapa banyak uang yang keluar untuk hiburan digital setiap bulannya.

4. Belanja Kebutuhan RT: Stock up bulanan vs belanja harian

Sabun mandi, deterjen, tisu, hingga stok beras. Kategori ini biasanya diisi dengan belanja besar di awal bulan. Namun, seringkali ada belanja harian yang terselip, seperti beli galon air atau gas Elpiji. Memisahkan kebutuhan rumah tangga dari pengeluaran pribadi akan membantumu melihat berapa sebenarnya biaya hidup dasarmu setiap bulan.

5. Social & Entertainment: Budget buat nongkrong dan nonton

Jangan biarkan hidupmu membosankan, tapi jangan sampai bangkrut karena main. Kategori ini mencakup tiket bioskop, patungan ulang tahun teman, hingga biaya nongkrong di kafe. Dengan menetapkan budget pada kategori pengeluaran harian ini, kamu bisa tetap bersosialisasi tanpa rasa bersalah. Jika budget sudah habis di minggu ketiga, artinya kamu harus berani menolak ajakan nongkrong di minggu keempat.

6. Kesehatan & Personal Care: Skincare dan vitamin itu investasi

Banyak orang lupa mencatat biaya beli vitamin, skincare, atau potong rambut. Padahal ini adalah kebutuhan rutin. Memasukkannya ke dalam kategori tersendiri membantu kamu melihat bahwa merawat diri adalah sebuah investasi yang ada harganya. Jadi, pas beli serum mahal, kamu nggak kaget kenapa saldo tiba-tiba berkurang banyak, karena memang sudah ada kategorinya.

7. Lain-lain (The Buffer): Tempat untuk biaya tak terduga yang kecil

Selalu sediakan kategori “Lain-lain” untuk hal-hal yang tidak masuk ke kategori mana pun, seperti biaya admin bank, beli materai, atau sumbangan dadakan. Namun, ada satu hal yang lebih penting dari sekadar mencatat pengeluaran kecil, yaitu membangun bantalan finansial. Jangan lupa untuk selalu menyisihkan sebagian uangmu dan pelajari tips mengumpulkan dana darurat cepat agar kamu tidak perlu berutang saat ada kebutuhan mendesak yang besar.

Kesalahan Fatal: ‘Over-Categorizing’ yang Bikin Kamu Menyerah

Setelah tahu apa saja kategorinya, banyak orang justru terjebak dalam kesalahan teknis saat mulai menggunakan rekomendasi aplikasi pencatat keuangan. Kesalahan paling umum adalah membuat terlalu banyak kategori.

Terjebak di kategori yang terlalu spesifik (Misal: Bakso vs Mie Ayam)

Jangan membuat kategori berdasarkan jenis makanan atau merk barang. Misalnya, kamu punya kategori “Kopi”, “Camilan”, “Makan Berat”, dan “Minuman Manis”. Ini akan menyulitkanmu saat melakukan pencatatan cepat. Gunakan kategori yang lebih luas agar kamu tidak perlu berpikir dua kali saat ingin memasukkan transaksi. Prinsipnya: kategori harus membantumu mengambil keputusan, bukan membuatmu pusing.

Membiarkan kategori ‘Lain-lain’ jadi yang paling besar

Kategori “Lain-lain” seharusnya hanya berisi maksimal 5-10% dari total pengeluaranmu. Jika kategori ini menjadi yang paling besar, itu tandanya kamu malas mengelompokkan uangmu. Kamu jadi tidak tahu uangmu lari ke mana, karena semuanya dibilang “Lain-lain”. Jika kamu sering belanja online di marketplace, lebih baik buat kategori “Shopping” daripada memasukkannya ke “Lain-lain”.

Lupa mencatat pengeluaran kecil di bawah Rp5.000

Uang parkir, biaya admin top-up e-wallet, atau tips untuk kurir seringkali dianggap sepele. Tapi coba bayangkan, jika dalam sehari ada 3 kali pengeluaran Rp2.000 yang tidak dicatat, dalam sebulan ada Rp180.000 yang “hilang” tanpa jejak. Di MoneyKu, kami menyarankan penggunaan fitur fast logging untuk mencatat hal-hal kecil ini segera setelah terjadi, agar tidak terlupakan.

Penelitian menunjukkan bahwa menggunakan alat bantu yang tepat bisa meningkatkan kesadaran finansial secara signifikan.

Fact: Tingkat peningkatan efisiensi pengeluaran bagi individu yang menggunakan aplikasi pengelolaan keuangan dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan aplikasi. — 25 persen (2024-2025) — Source: STIE Trianandra

Dengan efisiensi sebesar 25%, kamu bisa mengalokasikan uang tersebut untuk tabungan atau investasi di masa depan.

Skenario Nyata: Cara Budi (22th) Mengatur Kategori Agar Tetap Bisa Ngopi

Budi adalah seorang fresh graduate yang baru bekerja 6 bulan di Jakarta. Gaji Budi sebesar Rp6.000.000 per bulan. Sebelumnya, Budi selalu merasa uangnya habis di minggu ketiga. Akhirnya Budi mencoba menggunakan sistem kategori pengeluaran harian dengan panduan budget 50/30/20. Mari kita lihat bagaimana Budi mengatur kategorinya.

Senin-Jumat: Fokus pada kategori Transportasi & Makan Siang Kantor

Selama hari kerja, Budi sangat disiplin. Dia menggunakan kategori “Transportasi” untuk biaya MRT dan ojek online menuju stasiun. Untuk makan siang, Budi menetapkan batas maksimal Rp30.000 per hari di kategori “Makan & Minum”.

Suatu hari, temannya mengajak makan di mall yang sekali makan bisa habis Rp100.000. Budi mengecek aplikasi MoneyKu miliknya dan melihat sisa budget kategori makanannya tinggal sedikit. Akhirnya, Budi memilih untuk membawa bekal di hari berikutnya sebagai kompensasi agar budget kategori pengeluaran harian makannya tetap aman.

Weekend: Bagaimana kategori ‘Social’ menjaga saldo tetap aman

Di akhir pekan, Budi ingin tetap bisa nongkrong dengan teman-temannya. Dia mengalokasikan Rp500.000 per bulan untuk kategori “Social & Entertainment”. Saat Sabtu malam tiba, Budi tahu dia punya budget Rp125.000 untuk sekali jalan. Dengan begini, dia tidak akan kalap memesan banyak menu karena dia tahu batasannya. Jika dia menghabiskan Rp200.000 minggu ini, artinya minggu depan dia harus mencari hiburan yang gratis, seperti olahraga di taman kota atau nonton film di kosan saja.

Evaluasi Akhir Bulan: Melihat insight visual untuk cut-off pengeluaran gak penting

Di akhir bulan, Budi melihat ringkasan visual di MoneyKu. Ternyata, pengeluaran paling besarnya ada di kategori “Lain-lain” yang ternyata isinya adalah biaya admin top-up e-wallet yang sering dia lakukan berkali-kali dalam jumlah kecil. Dari sini, Budi belajar untuk melakukan top-up sekaligus dalam jumlah besar sekali sebulan agar hemat biaya admin. Inilah kekuatan dari membagi pengeluaran ke dalam kategori pengeluaran harian yang konsisten.

Jenis Pengeluaran Strategi Budi Hasilnya
Makan Siang Budget harian & bawa bekal Hemat Rp400rb/bulan
Transportasi Pakai MRT vs Ojol Full Hemat Rp300rb/bulan
Kopi Kekinian Dibatasi 2x seminggu Hemat Rp200rb/bulan
Langganan App Hapus yang jarang dipakai Hemat Rp150rb/bulan

Checklist: Apakah Sistem Kategori Kamu Sudah Efektif?

Coba cek sistem pencatatanmu sekarang. Jika kamu masih merasa kesulitan, mungkin ada yang perlu diperbaiki dari cara kamu membagi kategori pengeluaran harian. Gunakan checklist berikut untuk mengevaluasi:

  1. Bisakah kamu mencatat dalam kurang dari 10 detik?
    Jika proses mencatat memakan waktu terlalu lama karena kamu bingung memilih kategori, artinya kategori kamu terlalu rumit. Sederhanakan lagi.

  2. Apakah kamu tahu kategori mana yang paling boros bulan lalu?
    Sistem yang efektif harus bisa memberikan jawaban instan. Kamu harus bisa bilang, “Oh, bulan lalu aku terlalu banyak belanja di kategori Shopping.”

  3. Apakah kategori kamu sudah mencakup biaya langganan digital?
    Jangan biarkan biaya auto-debit hilang dari pantauan. Pastikan ada kategori “Bills & Subs” untuk memantau pengeluaran pasif ini.

  4. Apakah kamu sudah menggunakan fitur Split Bill?
    Jika kamu sering makan bareng teman, pastikan kamu mencatat bagianmu saja. Di MoneyKu, kamu bisa menggunakan fitur split bill agar catatan kategori pengeluaran harian kamu tetap akurat meskipun bayarnya barengan.

  5. Apakah visualisasinya membantu?
    Melihat angka saja seringkali membosankan. Pastikan alat yang kamu gunakan memberikan grafik atau visual summary yang mudah dipahami dalam sekali lihat.

Banyak yang Tanya Soal Ini (FAQ)

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang paling sering muncul terkait pengelolaan kategori pengeluaran harian dan cara mencatatnya agar tidak pusing.

Gimana kalau bayar pakai cash, apakah tetap harus masuk kategori?

Tetap wajib! Justru uang tunai atau cash adalah yang paling sering “raib” tanpa jejak. Biasakan langsung mencatat pengeluaran tunai sesaat setelah transaksi. Di MoneyKu, kamu bisa menambahkan catatan kecil atau tag kalau transaksi itu menggunakan cash agar kamu tahu sisa uang di dompet fisikmu berapa.

Perlu nggak memisahkan belanja online dan belanja offline?

Sebenarnya tidak perlu membedakan metodenya, tapi lebih ke tujuannya. Kalau kamu beli deterjen secara online, masukkan saja ke kategori “Kebutuhan RT”. Kalau kamu beli baju di mall secara offline, masukkan ke kategori “Shopping”. Memisahkan berdasarkan cara belanja hanya akan menambah jumlah kategori pengeluaran harian yang sebenarnya tidak memberikan insight berarti buat pengambilan keputusanmu.

Gimana cara mencatat split bill sama teman?

Ini pertanyaan klasik. Misalnya total tagihan Rp200.000, kamu bayar dulu semuanya, tapi temanmu nanti akan transfer Rp100.000. Jangan catat Rp200.000 sebagai pengeluaranmu. Catatlah hanya Rp100.000 (bagianmu) ke dalam kategori pengeluaran harian yang relevan. Di MoneyKu, fitur split bill memudahkanmu mengundang teman ke grup belanja agar pembagiannya otomatis dan tercatat rapi tanpa merusak data pengeluaran pribadimu.

Apakah kategori ‘Tabungan’ harus dicatat sebagai pengeluaran?

Secara teknis, menabung bukanlah pengeluaran, melainkan perpindahan saldo dari rekening aktif ke rekening tabungan. Namun, dalam konteks budgeting, menganggap tabungan sebagai “tagihan wajib” di awal bulan sangatlah efektif. Kamu bisa membuat kategori “Savings & Investment” agar kamu bisa melihat bahwa kamu sudah mengalokasikan uang untuk masa depan sebelum menghabiskannya untuk kategori pengeluaran harian lainnya.

Bagaimana kalau saya lupa mencatat selama beberapa hari?

Jangan menyerah dan jangan mencoba mengingat semuanya secara detail. Cukup cek mutasi rekening atau e-wallet kamu, lalu masukkan total pengeluarannya ke kategori yang paling mendekati. Yang penting adalah konsistensi jangka panjang, bukan kesempurnaan harian. Jika kamu sering lupa, MoneyKu memiliki fitur pengingat harian yang ramah agar kamu tetap pada jalur yang benar.

Mengelola keuangan memang butuh pembiasaan, tapi dengan sistem kategori pengeluaran harian yang tepat, semuanya akan terasa jauh lebih ringan. Kamu tidak lagi bertanya-tanya “uangku lari ke mana?”, melainkan kamu yang memerintahkan uangmu untuk pergi ke mana. Mulailah dari 7 kategori sederhana tadi, dan rasakan perbedaannya di akhir bulan nanti!

Share

Postingan Terkait

cara otomatis konversi mata uang pada catatan pengeluaran

4 Cara Otomatis Konversi Mata Uang pada Catatan Pengeluaran: Anti Ribet!

Pernahkah kamu sedang asyik menikmati ramen hangat di gang sempit Tokyo atau menyeruput kopi di kafe estetik Seoul, lalu tiba-tiba teringat harus mencatat pengeluaran agar tidak kebablasan? Masalahnya, melihat angka di struk belanja dalam mata uang Yen atau Won seringkali membuat dahi berkerut. Kamu harus membuka kalkulator, mencari kurs hari ini di Google, lalu menghitungnya […]

Baca selengkapnya
cara kerja aplikasi pengatur keuangan membaca transaksi otomatis

5 Cara Kerja Aplikasi Pengatur Keuangan Membaca Transaksi Otomatis

Pernahkah kamu merasa lelah saat harus mencatat setiap pengeluaran kecil setelah seharian beraktivitas? Bayangkan, baru saja membeli kopi susu di sore hari, lalu membayar parkir, kemudian mampir ke supermarket untuk membeli kebutuhan bulanan. Jika harus mencatat satu per satu secara manual, rasanya waktu kita habis hanya untuk memindahkan angka dari struk ke dalam ponsel. Itulah […]

Baca selengkapnya
fitur pengatur keuangan di m-banking

Pilih Mana? 5 Beda Fitur Pengatur Keuangan di m-Banking vs App

Pernah tidak kamu merasa kaget saat melihat saldo di akhir bulan tiba-tiba menipis, padahal merasa tidak belanja barang mewah? Fenomena ini sering disebut sebagai “kebocoran halus,” di mana pengeluaran-pengeluaran kecil yang tidak tercatat justru menjadi beban terbesar bagi dompet kita. Di era serba digital ini, banyak dari kita mulai melirik fitur pengatur keuangan di m-banking […]

Baca selengkapnya