BNPL vs Cicilan Toko: Mana yang Lebih Untung di 2026?

MochiMochi
Bacaan 13 menit
buy now pay later vs cicilan toko

Pernah nggak sih kamu berdiri di depan etalase toko elektronik, menatap smartphone impian yang harganya setara tiga kali gaji bulanan, lalu otakmu mulai berhitung cepat? “Kalau gue beli cash, bulan depan makan mie instan tiap hari. Tapi kalau nyicil…” Nah, di sinilah dilema besar itu muncul. Di tahun 2026 ini, opsi pembayaran semakin beragam dan menggoda. Dua kandidat terkuat yang sering bikin galau adalah buy now pay later vs cicilan toko. Keduanya menawarkan janji manis yang sama: bawa pulang barangnya sekarang, bayar nanti pelan-pelan.

Namun, jangan tertipu oleh kemudahan di awal. Memilih antara buy now pay later vs cicilan toko bukan sekadar soal mana yang lebih cepat cair, tapi mana yang lebih “sehat” untuk dompetmu dalam jangka panjang. Banyak anak muda usia 18-25 tahun terjebak dalam utang yang menumpuk hanya karena salah strategi di awal. Mereka tidak menyadari bahwa perbedaan bunga, biaya admin, dan denda keterlambatan antara kedua metode ini bisa sangat signifikan. Artikel ini akan membedah tuntas segala hal yang perlu kamu tahu agar kamu bisa mengambil keputusan finansial yang cerdas, bukan emosional.

BNPL vs Cicilan Toko: Mana Pilihanmu?

Sebelum kita masuk ke arena pertarungan buy now pay later vs cicilan toko, mari kita samakan persepsi dulu. Banyak orang menganggap keduanya sama saja—toh sama-sama ngutang. Padahal, secara mekanisme, regulasi, dan dampaknya terhadap arus kas bulananmu, keduanya adalah binatang yang sangat berbeda. Memahami karakter masing-masing adalah langkah pertama dalam menyusun financial management strategy yang solid agar gaji kamu tidak sekadar “numpang lewat”.

Memahami Konsep Dasar ‘Buy Now Pay Later’ (BNPL)

Buy Now Pay Later, atau yang akrab kita sapa sebagai PayLater, adalah primadona baru di dunia fintech. Bayangkan kamu punya kartu kredit, tapi tanpa kartu fisik, tanpa proses pengajuan yang berbelit-belit ke bank, dan semuanya ada di dalam smartphone-mu. Layanan seperti Shopee PayLater, GoPayLater, Kredivo, atau Akulaku telah mendominasi pasar ini. Konsepnya sederhana: perusahaan fintech menalangi dulu belanjaanmu (mulai dari beli boba, baju, hingga tiket pesawat), dan kamu membayarnya nanti, bisa bulan depan (bayar penuh) atau dicicil beberapa bulan.

Keunggulan utama BNPL adalah kecepatan. Dalam hitungan detik saat checkout di e-commerce, transaksimu selesai. Tidak ada survei ke rumah, tidak ada telepon verifikasi yang panjang lebar setiap kali transaksi. Namun, kemudahan ini sering kali menjadi pedang bermata dua. Karena rasanya seperti “tinggal klik”, banyak pengguna—terutama Gen Z—yang kehilangan sensasi “mengeluarkan uang”, sehingga tanpa sadar tagihan di akhir bulan membengkak melebihi kemampuan bayar. Dalam konteks buy now pay later vs cicilan toko, BNPL menang telak di faktor kenyamanan dan integrasi digital.

Memahami Konsep Dasar ‘Cicilan Toko’

Di sisi lain ring tinju, kita punya penantang klasik: Cicilan Toko. Ini adalah metode pembiayaan konvensional yang biasanya difasilitasi oleh perusahaan multifinance (seperti Home Credit, AEON, atau Spektra) yang bekerja sama langsung dengan merchant fisik atau toko offline. Kalau kamu pernah ke pusat perbelanjaan elektronik dan ditawari sales untuk kredit HP atau laptop dengan syarat KTP saja, itulah cicilan toko. Berbeda dengan BNPL yang limitnya diberikan di awal (bisa dipakai belanja apa saja), cicilan toko biasanya bersifat per transaksi.

Prosesnya sedikit lebih “ribet” dibanding BNPL. Kamu pilih barang, lalu mengajukan kredit untuk barang tersebut. Mungkin ada proses verifikasi data, foto wajah, hingga survei singkat. Terkadang kamu juga diminta membayar uang muka (DP). Meskipun terdengar kuno, cicilan toko punya segmen pasarnya sendiri, terutama untuk nominal transaksi yang besar dan bagi mereka yang mungkin belum terjamah oleh ekosistem digital sepenuhnya. Saat membandingkan buy now pay later vs cicilan toko, metode ini sering kali dianggap lebih “terkontrol” karena kamu sadar betul sedang mengajukan utang untuk satu barang spesifik, bukan sekadar lapar mata saat scroll aplikasi belanja.

Perbandingan Mendalam: BNPL vs Cicilan Toko Diadu

Sekarang, mari kita bedah lebih dalam. Mana yang sebenarnya lebih menguntungkan—atau lebih sedikit ruginya—di tahun 2026 ini? Pertarungan buy now pay later vs cicilan toko tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi. Kita perlu melihat dari aspek bunga, tenor, fleksibilitas, hingga dampaknya pada credit score kamu di mata OJK (SLIK).

Bagaimana Cara Kerja BNPL?

Sistem kerja BNPL sangat bergantung pada algoritma dan data digitalmu. Saat kamu mendaftar, fintech akan menganalisis riwayat transaksimu (misalnya seberapa sering kamu belanja di e-commerce tersebut, apakah kamu sering beli pulsa, pesan ojek online, dll). Dari situ, mereka menentukan limit kredit.

  1. Limit Kredit: Bisa mulai dari Rp500.000 hingga puluhan juta rupiah, tergantung profil risikomu.
  2. Transaksi: Saat checkout, kamu pilih metode pembayaran PayLater. Sistem langsung memotong limitmu.
  3. Tenor: Biasanya pendek, mulai dari 30 hari (bayar nanti) hingga cicilan 3, 6, atau 12 bulan.
  4. Penagihan: Jatuh tempo biasanya di tanggal tertentu setiap bulan. Notifikasi akan muncul di aplikasi.

Dalam skema buy now pay later vs cicilan toko, BNPL menawarkan pengalaman yang seamless. Kamu tidak merasa sedang “mengajukan kredit” setiap kali beli barang. Ini bagus untuk efisiensi waktu, tapi buruk untuk impulsivitas.

Bagaimana Cara Kerja Cicilan Toko?

Cicilan toko bekerja dengan prinsip pembiayaan aset. Artinya, utang tersebut melekat pada barang yang kamu beli.

  1. Pengajuan di Tempat: Kamu datang ke toko, pilih barang, lalu sales akan membantu input data ke sistem leasing.
  2. Uang Muka (DP): Sering kali cicilan toko mewajibkan DP (misal 10-20% dari harga barang), meskipun banyak juga promo “Tanpa DP”.
  3. Verifikasi: Bisa jadi ada telepon ke nomor darurat atau verifikasi biometrik di tempat.
  4. Tenor: Cenderung lebih panjang dan variatif, bisa 6, 9, 12, 15, 18, hingga 24 bulan.

Proses ini membuatmu punya waktu untuk “berpikir ulang” sebelum tanda tangan kontrak. Hambatan (friction) ini sebenarnya positif untuk mencegah consumer debt yang tidak perlu. Dalam debat buy now pay later vs cicilan toko, faktor “mikir dua kali” ini sering dilupakan padahal sangat krusial.

Kelebihan BNPL yang Perlu Diketahui

Kenapa BNPL begitu populer? Berikut alasannya:

  • Instan & Praktis: Tidak perlu upload KTP berulang kali setiap belanja. Sekali aktif, tinggal pakai.
  • Banyak Promo: Sering ada cashback, diskon ongkir, atau potongan harga khusus jika bayar pakai PayLater.
  • Terintegrasi: Satu aplikasi untuk belanja, bayar tagihan, dan kredit. Sangat memudahkan hidup.
  • Limit Fleksibel: Bisa dipakai untuk belanja receh (sabun, mie instan) hingga barang mahal, selama limit cukup.

Kekurangan BNPL yang Perlu Diwaspadai

Namun, waspadalah:

  • Bunga Berbunga: Jika telat bayar, dendanya bisa sangat mencekik. Bunga harian atau bulanan yang terakumulasi bisa membuat harga barang jadi dua kali lipat.
  • Impulsive Buying: Karena terlalu mudah, kamu jadi gampang tergoda beli barang yang sebenarnya tidak butuh.
  • Biaya Layanan: Setiap transaksi sering dikenakan biaya penanganan (handling fee) sekitar 1% yang jarang disadari pengguna.

Kelebihan Cicilan Toko yang Menguntungkan

Cicilan toko punya daya tarik tersendiri:

  • Bunga 0%: Banyak toko elektronik besar bekerjasama dengan leasing menawarkan promo bunga 0% untuk tenor tertentu (biasanya 6 bulan).
  • Tenor Panjang: Cocok untuk barang sangat mahal (kulkas 2 pintu, laptop gaming high-end) karena cicilan per bulannya jadi lebih ringan.
  • Disiplin: Karena prosesnya formal, kamu cenderung lebih berkomitmen untuk melunasinya.

Kekurangan Cicilan Toko yang Perlu Dipertimbangkan

  • Biaya Admin Tinggi: Meskipun bunga 0%, seringkali ada biaya admin di awal (misal Rp199.000) yang harus dibayar tunai.
  • Tidak Fleksibel: Hanya untuk barang tertentu di toko tertentu. Tidak bisa dipakai buat beli kopi.
  • Proses Lama: Bisa memakan waktu 30 menit hingga 1 jam di toko hanya untuk urus administrasi.

Adu Biaya: Bunga dan Biaya Tersembunyi

Ini adalah inti dari perbandingan buy now pay later vs cicilan toko. Mari kita hitung-hitungan kasar.

Kasus: Membeli HP seharga Rp 5.000.000

  • Skenario BNPL:

    • Bunga: 2.95% per bulan.
    • Biaya admin: 1% per transaksi.
    • Tenor: 12 bulan.
    • Total Bunga: 2.95% x 12 = 35.4%.
    • Total Bayar: Rp 5.000.000 + (Rp 5.000.000 x 35.4%) + Biaya Admin = Rp 6.800.000++
  • Skenario Cicilan Toko (Promo Bunga Rendah):

    • Bunga: 1.99% per bulan (atau bahkan 0% jika promo).
    • Biaya Admin: Rp 199.000 di awal.
    • DP: 10% (Rp 500.000).
    • Tenor: 12 bulan.
    • Total Bayar: DP + Biaya Admin + Cicilan. Seringkali jatuhnya lebih murah jika dapat promo bunga rendah, tapi uang muka di awal terasa berat.

Perhatikan bahwa dalam buy now pay later vs cicilan toko, komponen biaya bukan cuma bunga. Ada biaya admin, biaya layanan, dan denda. Jangan hanya tergiur tulisan “Angsuran Ringan”. Selalu hitung total uang yang keluar dari dompetmu sampai lunas.

Kapan Memilih yang Tepat? Panduan Berdasarkan Kebutuhan

Bingung harus pilih mana? Berikut panduan praktis untuk memenangkan dilema buy now pay later vs cicilan toko sesuai situasi keuanganmu.

Skenario Penggunaan Ideal untuk BNPL

  1. Kebutuhan Mendesak & Nominal Kecil: Token listrik habis tanggal 25, gaji baru masuk tanggal 1. BNPL (opsi bayar 30 hari) adalah penyelamat tanpa bunga (biasanya).
  2. Mengejar Diskon Besar: Ada Flash Sale HP diskon 2 juta tapi harus bayar sekarang, dan kamu belum pegang cash. Pakai BNPL, lalu lunasi segera begitu gajian agar tidak kena bunga.
  3. Cashflow Management: Kamu punya uangnya, tapi sayang kalau dikeluarkan sekaligus. Kamu pakai opsi cicilan 3 bulan bunga 0% (jika ada) untuk menjaga likuiditas.

Skenario Penggunaan Ideal untuk Cicilan Toko

  1. Barang Nominal Besar & Jangka Panjang: Beli motor listrik, laptop kerja spesifikasi tinggi, atau isi rumah (sofa, kasur). Cicilan toko dengan tenor 12-24 bulan membuat angsuran per bulan lebih masuk akal.
  2. Tidak Punya Akses Digital Kuat: Jika limit PayLater-mu kecil atau kamu tidak terlalu tech-savvy, cicilan toko dengan bantuan sales manusia jauh lebih nyaman.
  3. Promo Bunga 0% Asli: Jika toko menawarkan bunga 0% murni (tanpa markup harga barang), ini hampir selalu lebih menguntungkan daripada BNPL reguler.

Studi Kasus: Membeli Gadget Impian

Bayangkan Rara (22 tahun, fresh graduate). Laptop kerjanya rusak total. Dia butuh laptop baru seharga 10 juta. Tabungannya cuma ada 2 juta.

  • Opsi A (BNPL): Limit PayLater Rara cukup (15 juta). Dia bisa langsung checkout online. Tapi bunganya 2.95% per bulan. Cicilan per bulan sekitar 1,1 juta selama 12 bulan. Total bayar jadi 13,5 juta. Mahal!
  • Opsi B (Cicilan Toko): Dia ke mall, cari promo. Ada toko menawarkan bunga 0% tenor 6 bulan dengan syarat DP 2 juta + Admin 200 ribu. Rara bayar DP pakai tabungannya. Sisa 8 juta dicicil 6 bulan = 1,3 juta/bulan. Total bayar = 10 juta + 200 ribu = 10,2 juta.

Dalam kasus Rara, buy now pay later vs cicilan toko dimenangkan oleh Cicilan Toko karena dia punya uang muka dan ingin hemat bunga jutaan rupiah. Namun, jika Rara tidak punya tabungan 2 juta untuk DP, dia terpaksa ambil opsi BNPL meski lebih mahal. Mahalnya kemiskinan (poverty penalty) itu nyata, teman-teman.

Waspadai Jebakan: Apa yang Bisa Salah?

Baik buy now pay later vs cicilan toko, keduanya adalah utang. Dan utang adalah api—kecil jadi kawan, besar jadi lawan.

Risiko Terjerat Utang Berlebihan

Kemudahan akses sering membuat kita lupa diri. Fenomena “gali lubang tutup lubang” sering bermula dari satu transaksi BNPL kecil yang kemudian bertumpuk. Saat membandingkan buy now pay later vs cicilan toko, BNPL punya risiko impulsive buying lebih tinggi. Kamu bisa belanja sambil tiduran, setengah sadar, jam 2 pagi. Sedangkan cicilan toko butuh usaha fisik untuk datang ke toko, yang secara alami menjadi filter keinginan impulsif.

Dampak pada Skor Kredit dan Catatan Keuangan

Ini yang paling krusial dan sering diabaikan anak muda. Baik penyedia BNPL legal (terdaftar OJK) maupun perusahaan pembiayaan cicilan toko, semuanya melaporkan riwayat pembayaranmu ke SLIK OJK (dulu BI Checking). Telat bayar PayLater Rp 50.000 saja bisa membuat namamu masuk daftar hitam (kolektibilitas macet). Akibatnya? Di masa depan, saat kamu mau ambil KPR rumah atau kredit usaha, pengajuanmu akan ditolak bank otomatis.

Jaga riwayat kreditmu seperti menjaga harga diri. Dalam konteks buy now pay later vs cicilan toko, pastikan kamu tidak hanya mampu membayar cicilannya, tapi juga disiplin membayar tepat waktu.

Konsekuensi Keterlambatan Pembayaran

  • Denda Harian: BNPL sering menerapkan denda harian yang jika diakumulasi bisa sangat besar.
  • Intimidasi Penagihan: Meskipun regulasi OJK sudah ketat, praktik penagihan lapangan (debt collector) masih menjadi momok menakutkan bagi yang gagal bayar.
  • Biaya Pembatalan: Pada cicilan toko, jika barang ditarik kembali karena gagal bayar, uang yang sudah masuk biasanya hangus.

Untuk menghindari ini, kamu butuh alat bantu. Kamu tidak bisa hanya mengandalkan ingatan. Di sinilah pentingnya mencatat setiap kewajiban.

MoneyKu bisa menjadi sahabat terbaikmu dalam situasi ini. Meskipun MoneyKu bukan aplikasi pemberi pinjaman, fitur pencatatan pengeluarannya sangat efektif untuk memantau beban utangmu. Kamu bisa membuat kategori khusus “Cicilan” atau “Utang” di MoneyKu.

Setiap kali kamu mengambil cicilan (baik BNPL atau toko), langsung catat sebagai pengeluaran rutin bulanan di MoneyKu. Dengan visualisasi grafik yang jelas, kamu akan langsung sadar jika porsi cicilanmu sudah melebihi 30% dari pendapatan—sebuah tanda bahaya dalam perencanaan keuangan. Fitur budgeting di MoneyKu akan mengingatkanmu bahwa jatah jajanmu harus dikurangi bulan ini karena ada tagihan PayLater yang menunggu.

FAQ: Pertanyaan Umum Seputar BNPL dan Cicilan Toko

Masih ada yang mengganjal tentang buy now pay later vs cicilan toko? Berikut rangkuman pertanyaan yang sering masuk ke meja redaksi kami.

Apakah pengajuan BNPL atau cicilan toko sulit?

BNPL jauh lebih mudah dan cepat, seringkali hanya butuh KTP dan foto selfie, persetujuan dalam hitungan menit atau jam. Cicilan toko biasanya membutuhkan verifikasi lebih lengkap, kadang butuh dokumen pendukung seperti slip gaji atau NPWP untuk nominal besar, dan prosesnya bisa memakan waktu jam hingga hari kerja.

Bagaimana cara kerja bunga pada kedua opsi?

Bunga BNPL biasanya bersifat fixed per bulan (flat), tapi efektifnya cukup tinggi (2-4%). Cicilan toko juga menggunakan bunga flat, namun seringkali terlihat lebih rendah karena adanya subsidi dari merchant atau promo bunga 0%. Hati-hati dengan istilah “bunga ringan”, selalu minta tabel simulasi pelunasan total.

Apa yang terjadi jika saya telat membayar?

Keduanya akan mengenakan denda keterlambatan. BNPL biasanya langsung memotong denda dari limit atau menagih via aplikasi dengan intensitas tinggi. Cicilan toko akan menelpon dan mengirim surat peringatan. Jika berlarut-larut, keduanya berhak melaporkan ke OJK dan mengirim penagih lapangan. Skor kreditmu akan hancur seketika.

Bisakah saya menggunakan keduanya bersamaan?

Secara teknis bisa, selama limitmu mencukupi dan disetujui. Tapi, ini adalah resep bencana keuangan. Menggunakan buy now pay later vs cicilan toko secara bersamaan tanpa perhitungan matang akan membuat Debt Service Ratio (rasio utang terhadap pendapatan) kamu meledak. Idealnya, total seluruh cicilan tidak boleh lebih dari 30% gaji bulanan.

Mana yang lebih baik untuk pembelian kecil?

Untuk pembelian kecil (baju, sepatu, makan, pulsa), BNPL jelas pemenangnya karena praktis dan limitnya fleksibel. Cicilan toko biasanya punya batas minimal transaksi (misal minimal belanja 1 juta atau 2 juta rupiah) sehingga tidak relevan untuk belanja receh.


Kesimpulannya, pertempuran buy now pay later vs cicilan toko tidak ada pemenang tunggal. Semuanya kembali pada kebutuhan, disiplin, dan kondisi keuanganmu saat itu. BNPL menawarkan kecepatan untuk kebutuhan mendadak atau gaya hidup yang serba cepat. Cicilan toko menawarkan struktur dan potensi bunga lebih rendah untuk pembelian aset besar yang terencana.

Kuncinya ada pada kesadaran. Jangan sampai kemudahan fitur “Beli Sekarang” membuatmu lupa bahwa ada kewajiban “Bayar Nanti”. Gunakan alat bantu catat keuangan seperti MoneyKu agar kamu tetap jadi bos atas uangmu sendiri, bukan budak tagihan. Bijaklah berutang, dan pastikan setiap rupiah yang kamu pinjam hari ini, mampu kamu kembalikan esok hari tanpa mengorbankan masa depanmu.

Share

Postingan Terkait

cara cicil hp tanpa kartu kredit lewat paylater

5 Cara Cicil HP Tanpa Kartu Kredit Lewat Paylater (2026)

Pernahkah kamu merasa gatal ingin ganti gadget tapi tabungan belum cukup? Kamu tidak sendirian. Di tahun 2026 ini, memiliki smartphone dengan spesifikasi mumpuni sudah menjadi kebutuhan primer, baik untuk bekerja, kuliah, hingga sekadar mencari hiburan. Namun, harga smartphone flagship atau mid-range yang semakin melambung seringkali menjadi penghalang bagi anak muda yang belum memiliki penghasilan tetap […]

Baca selengkapnya
cara menonaktifkan paylater

5 Cara Menonaktifkan Paylater & Tips Stop Hidup Konsumtif

Pernahkah kamu merasa jantung berdegup kencang saat melihat notifikasi tagihan di awal bulan? Atau mungkin kamu merasa saldo tabunganmu seperti ‘numpang lewat’ saja karena harus langsung disetorkan untuk cicilan belanja bulan lalu? Fenomena ‘Buy Now, Pay Later’ (BNPL) memang menawarkan kemudahan yang sangat menggoda, namun bagi banyak orang, kemudahan ini justru menjadi pintu masuk menuju […]

Baca selengkapnya
bahaya gestun paylater dan risikonya bagi limit

5 Bahaya Gestun Paylater dan Risikonya Bagi Limit Anda

Pernahkah kamu merasa sangat membutuhkan uang tunai mendesak, sementara saldo di rekening bank sudah menipis? Di saat yang sama, kamu melihat limit paylater di aplikasi belanja masih sangat besar, mencapai jutaan rupiah. Godaan untuk mencairkan limit tersebut menjadi uang tunai—atau yang populer disebut dengan istilah gesek tunai (gestun)—pasti terasa sangat besar. Namun, sebelum kamu melangkah […]

Baca selengkapnya