Masak Sendiri vs Beli Makan Hemat Mana? 5 Cara Hitung Pastinya

MochiMochi
Bacaan 12 menit
masak sendiri vs beli makan hemat mana

Pertanyaan klasik yang sering muncul di grup WhatsApp keluarga, obrolan santai di kantor, hingga diskusi serius anak kos adalah: masak sendiri vs beli makan hemat mana sebenarnya? Di tengah gempuran promo aplikasi pesan antar makanan dan kenaikan harga bahan pokok di pasar, jawaban untuk pertanyaan ini tidak lagi sesederhana “masak pasti lebih murah.” Faktanya, banyak orang yang memutuskan untuk mulai masak sendiri justru berakhir dengan pengeluaran yang lebih membengkak karena strategi belanja yang salah. Sebaliknya, mereka yang terbiasa beli makan di luar sering kali terkejut dengan total tagihan bulanan yang menghabiskan hampir setengah dari gaji mereka.

Memahami masak sendiri vs beli makan hemat mana memerlukan analisis yang lebih dalam daripada sekadar membandingkan harga satu piring nasi rames dengan harga satu kilogram beras. Kita perlu menghitung biaya investasi alat, waktu yang kita habiskan di dapur, hingga biaya tersembunyi seperti gas dan bumbu dapur. Artikel ini akan membedah secara tuntas cara menghitungnya agar kamu bisa mengambil keputusan finansial yang paling tepat untuk kondisi kantongmu saat ini. Jika kamu sedang berjuang mengatur cash flow, memahami cara mengatur pengeluaran makan adalah langkah awal yang sangat krusial.

Debat Abadi: Apakah Masak Selalu Lebih Murah?

Banyak orang tua atau pakar keuangan tradisional sering memberikan nasihat satu arah: “Kalau mau kaya, berhentilah makan di luar dan mulailah masak sendiri.” Namun, bagi generasi muda yang hidup di kota besar dengan mobilitas tinggi, nasihat ini sering kali terasa kurang relevan atau sulit diterapkan. Mari kita bedah mitos dan realitas di balik perdebatan masak sendiri vs beli makan hemat mana.

Mitos ‘Masak Sendiri Pasti Hemat’

Masak sendiri bisa menjadi sangat mahal jika kamu tidak memiliki rencana belanja yang jelas. Bayangkan kamu ingin memasak satu menu spesifik, misalnya Capcay Seafood. Kamu harus membeli saus tiram, kecap ikan, minyak wijen, tepung maizena, udang, cumi, dan berbagai jenis sayuran. Jika bumbu-bumbu tersebut hanya dipakai sekali dan kemudian kedaluwarsa di pojok lemari es, maka biaya per porsi makananmu akan jauh lebih mahal dibandingkan membeli satu porsi Capcay di warung tenda dekat rumah. Inilah mengapa dalam menimbang masak sendiri vs beli makan hemat mana, efisiensi penggunaan bahan menjadi kunci utama.

Variabel yang Sering Dilupakan: Waktu dan Tenaga

Dalam ekonomi, ada istilah yang disebut opportunity cost atau biaya peluang. Jika kamu menghabiskan waktu 2 jam setiap hari untuk belanja, mencuci sayur, memasak, dan mencuci piring, tanyakan pada dirimu sendiri: Berapa nilai waktumu? Bagi seorang pekerja lepas yang dibayar per jam atau karyawan yang butuh waktu istirahat lebih banyak agar produktif, waktu 2 jam tersebut memiliki nilai nominal.

Jika waktu tersebut bisa digunakan untuk mengerjakan proyek sampingan yang menghasilkan uang, atau sekadar beristirahat agar tidak burnout, maka beli makan mungkin menjadi opsi yang lebih logis. Namun, bagi kamu yang sedang menjalankan tips budgeting anak kost, memasak bisa menjadi aktivitas yang sangat membantu menekan pengeluaran jika dilakukan dengan teknik yang benar, seperti batch cooking atau food prep.

Fact: Rata-rata inflasi tahunan komponen bergejolak (volatile food) di Indonesia — 4,88 percent (2024) — Source: Badan Pusat Statistik (BPS)

Masak Sendiri vs Beli Makan Hemat Mana? Cek Tabel Perbandingannya

Untuk mempermudah kamu dalam memutuskannya, mari kita lihat perbandingan antara memasak sendiri untuk satu minggu (21 porsi makan) dibandingkan dengan membeli makan di luar secara konsisten. Angka di bawah ini adalah estimasi rata-rata di kota besar seperti Jakarta untuk satu orang.

Kriteria Masak Sendiri (Skala Hemat) Beli Makan (Warteg/Kantin) Beli Makan (Aplikasi/Online)
Biaya Bahan/Menu Rp 350.000 – Rp 500.000 Rp 630.000 – Rp 800.000 Rp 1.200.000 – Rp 1.800.000
Biaya Tambahan Gas, Listrik, Air, Sabun (~Rp 50rb) Transportasi/Parkir (~Rp 30rb) Delivery, Service, Small Order Fee
Investasi Waktu 10-15 Jam/Minggu 3-5 Jam/Minggu < 1 Jam/Minggu
Kualitas Nutrisi Terkontrol (Lebih Sehat) Variatif (Cenderung Berminyak) Variatif (Garam/Gula Tinggi)

Biaya Investasi Alat (Kompor, Kulkas, Magic Com)

Salah satu faktor yang sering diabaikan saat membandingkan masak sendiri vs beli makan hemat mana adalah biaya awal atau capital expenditure. Jika kamu mulai dari nol, kamu perlu membeli kompor gas (Rp 300rb), tabung gas (Rp 200rb), panci/wajan (Rp 150rb), dan rice cooker (Rp 250rb). Total investasi awal mencapai Rp 900.000.

Jika kamu hanya berencana tinggal di kos tersebut selama 3 bulan, biaya alat ini jika dibagi per bulan akan menambah pengeluaranmu secara signifikan. Namun, jika digunakan dalam jangka panjang (di atas 1 tahun), biaya alat ini akan terdepresiasi dan menjadi sangat kecil per porsinya. Bagi pemula, mengikuti tutorial food prep hemat bisa membantu mengoptimalkan penggunaan alat-alat minimalis yang sudah ada.

Fleksibilitas Porsi dan Variasi Nutrisi

Keunggulan utama memasak sendiri adalah kontrol penuh. Kamu bisa mengatur seberapa banyak protein yang masuk, jenis minyak yang digunakan, dan tingkat kebersihan bahan makanan. Dalam jangka panjang, ini bukan hanya soal hemat uang, tapi hemat biaya rumah sakit. Membeli makan di luar memang lebih praktis, tapi sering kali kita tidak punya kendali atas penggunaan MSG berlebih atau kebersihan air yang digunakan untuk mencuci sayuran. Jadi, dalam konteks masak sendiri vs beli makan hemat mana, pertimbangkan juga nilai kesehatan jangka panjang.

Skenario Realistis: Budget Rp 50.000 Sehari, Bisa Makan Apa?

Mari kita lakukan simulasi nyata. Katakanlah kamu memiliki jatah uang makan Rp 50.000 per hari. Bagaimana perbedaan hasil akhirnya antara ketiga opsi tersebut?

Opsi A: Belanja Bahan di Pasar (Masak 3 Porsi)

Dengan uang Rp 50.000 di pasar tradisional, kamu bisa membeli:

  • 1/2 kg Ayam (Rp 18.000)
  • 1 ikat Kangkung (Rp 3.000)
  • 1 papan Tempe (Rp 6.000)
  • Bumbu dapur (Cabai, Bawang, Tomat) (Rp 10.000)
  • Beras 1/2 liter (Rp 7.000)
  • Telur 2 butir (Rp 4.000)

Hasilnya: Kamu bisa makan 3 kali sehari dengan menu Ayam Goreng, Cah Kangkung, dan Tempe Goreng. Bahkan, kamu masih punya sisa beras dan telur untuk sarapan esok hari. Dalam skenario ini, jawaban untuk masak sendiri vs beli makan hemat mana adalah masak sendiri menang telak dari sisi kuantitas dan gizi.

Opsi B: Warteg/Kantin (Beli Langsung)

Di warung nasi biasa, Rp 50.000 mungkin hanya cukup untuk 2-3 kali makan dengan menu standar:

  • Makan Siang: Nasi + Telur + Sayur + Es Teh (Rp 18.000)
  • Makan Malam: Nasi + Ayam/Ikan + Sayur (Rp 22.000)
  • Sisa Rp 10.000 hanya cukup untuk camilan ringan atau air mineral.

Kamu tidak perlu mencuci piring atau repot ke pasar, tapi porsinya terbatas dan variasinya tergantung apa yang tersedia di etalase warung hari itu.

Opsi C: Promo Flash Sale Aplikasi (Delivery)

Mari jujur, uang Rp 50.000 di aplikasi pesan antar hampir tidak bisa memberikanmu 3 kali makan. Setelah ditambah ongkos kirim Rp 10.000, biaya layanan Rp 3.000, dan biaya pesanan kecil, satu kali makan saja bisa menghabiskan Rp 35.000 – Rp 45.000 bahkan dengan diskon sekalipun. Di sini, masak sendiri vs beli makan hemat mana menjadi sangat jelas bahwa delivery adalah opsi paling boros jika dilakukan setiap hari.

Fact: Tingkat inflasi tahunan kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau (y-on-y) — 4,38 percent (Desember 2025) — Source: Badan Pusat Statistik (BPS)

3 Kesalahan Fatal yang Bikin Masak Sendiri Jadi Lebih Boros

Jika kamu sudah mencoba masak tapi merasa uangmu malah cepat habis, mungkin kamu terjebak dalam salah satu kesalahan berikut. Memahami kesalahan ini sangat penting dalam mengevaluasi masak sendiri vs beli makan hemat mana untuk kasus pribadimu.

1. Laparnya Mata Saat Belanja (Impulsive Grocery Shopping)

Kesalahan nomor satu saat pergi ke supermarket adalah belanja dalam keadaan lapar atau tanpa daftar belanja. Kamu mungkin awalnya hanya berniat beli telur dan bayam, tapi berakhir dengan membawa pulang sosis beku, saus sambal impor, keripik kentang, dan minuman soda yang sedang diskon “Buy 1 Get 1”.

Hal ini sering terjadi karena lingkungan supermarket didesain untuk memicu impulsivitas. Jika kamu tidak disiplin, biaya belanja mingguanmu bisa melambung tinggi melebihi biaya jika kamu makan di warteg setiap hari. Ingat, esensi dari masak sendiri vs beli makan hemat mana adalah kontrol atas apa yang benar-benar kamu butuhkan, bukan apa yang kamu inginkan saat itu.

2. Bahan Makanan Busuk Karena Gagal Food Prep

Banyak orang memiliki niat baik di hari Minggu dengan membeli banyak sayuran dan daging, namun karena kelelahan bekerja di hari Senin hingga Rabu, mereka akhirnya kembali memesan makanan lewat aplikasi. Di hari Jumat, sayuran di kulkas sudah menguning dan daging mulai berbau. Ini adalah pemborosan ganda: kamu keluar uang untuk belanja bahan, dan kamu juga keluar uang untuk beli makan jadi. Tanpa manajemen stok yang baik, debat masak sendiri vs beli makan hemat mana akan selalu dimenangkan oleh opsi beli makan karena tidak ada bahan yang terbuang sia-sia.

3. Terlalu Ambisius Mencoba Resep Viral yang Butuh Bumbu Mahal

Jangan terjebak tren memasak menu mewah setiap hari. Jika resep yang kamu lihat di TikTok membutuhkan 10 jenis bumbu yang belum pernah kamu punya, pikirkan matang-matang. Apakah kamu akan menggunakan bumbu itu lagi? Jika tidak, menu tersebut akan menjadi beban pengeluaran yang tidak perlu. Untuk pemula, fokuslah pada menu-menu dasar Indonesia yang bumbunya bersifat umum (Bawang Merah, Bawang Putih, Cabai, Garam, Gula). Konsistensi dalam kesederhanaan adalah kunci memenangkan strategi masak sendiri vs beli makan hemat mana.

Checklist Keputusan: Kapan Harus Masak dan Kapan Harus Beli?

Tidak ada aturan saklek yang berlaku untuk semua orang. Kamu perlu mengevaluasi kondisimu menggunakan checklist berikut untuk menentukan mana yang lebih hemat bagimu:

  • Jumlah Orang: Apakah kamu tinggal sendiri atau berkeluarga? Masak untuk 4 orang jauh lebih hemat porsinya dibandingkan masak untuk 1 orang karena efisiensi bahan.
  • Akses Lokasi: Apakah ada pasar tradisional di dekat rumahmu? Jika kamu harus naik ojek online seharga Rp 20.000 hanya untuk ke pasar, maka biaya transportasimu sudah memakan jatah hematmu. Sebaliknya, jika di depan kosmu ada warung nasi murah meriah yang bersih, beli makan mungkin lebih masuk akal.
  • Ketersediaan Alat: Jika kamu tidak punya kulkas, jangan paksakan beli bahan dalam jumlah besar. Kamu akan lebih hemat jika membeli makan jadi daripada memaksakan masak tapi bahan cepat rusak.
  • Waktu Luang vs Deadline: Di pekan-pekan sibuk saat kerjaan menumpuk, jangan memaksakan diri memasak jika itu membuatmu kurang tidur. Kesehatan mentalmu lebih berharga daripada selisih Rp 10.000 per porsi makan.
  • Tingkat Keahlian: Jika kamu sering gagal masak (gosong, tidak enak, tidak termakan), biaya kegagalan tersebut harus dihitung. Mulailah perlahan dan jangan terlalu keras pada diri sendiri.

Dalam jangka panjang, memahami manfaat mencatat keuangan harian akan memberimu data nyata tentang pola mana yang paling cocok untuk gaya hidupmu. Data tidak pernah berbohong, dan dengan mencatat, kamu akan melihat sendiri hasil dari perbandingan masak sendiri vs beli makan hemat mana di dompetmu.

Cara MoneyKu Bantu Kamu Menemukan ‘Sweet Spot’ Hematmu

Menentukan pola makan mana yang paling efisien tidak harus dilakukan dengan menebak-nebak. Di sinilah peran MoneyKu sebagai asisten keuangan pribadimu. MoneyKu didesain untuk memberikan insight visual yang jelas tanpa membuatmu pusing dengan angka yang rumit.

Pertama, kamu bisa memisahkan kategori pengeluaran antara “Groceries” (untuk belanja bahan masak) dan “Dining Out” (untuk makan di luar/delivery). Setelah satu bulan, kamu bisa melihat analisis visual di MoneyKu: Berapa total yang kamu habiskan untuk bahan baku vs makanan jadi? Sering kali, kita merasa sudah hemat karena masak sendiri, padahal pengeluaran di kategori “Groceries” membengkak karena sering membeli camilan atau barang non-pangan saat ke supermarket.

Kedua, MoneyKu membantu kamu mengatur “Saving Plans”. Jika dari hasil analisis masak sendiri vs beli makan hemat mana kamu berhasil menghemat Rp 500.000 per bulan dengan mulai membawa bekal ke kantor, kamu bisa langsung memasukkan selisih tersebut ke dalam target tabungan untuk liburan atau dana darurat di MoneyKu. Melihat kemajuan target tabungan yang bertambah setiap kali kamu menahan diri dari godaan pesan antar makanan akan memberikan kepuasan psikologis yang membuatmu makin semangat berhemat.

Ketiga, fitur quick logging di MoneyKu memudahkan kamu mencatat setiap pengeluaran makan, bahkan saat sedang mengantre di kasir warteg. Dengan pencatatan yang disiplin, kamu tidak akan lagi bertanya-tanya “uang saya lari ke mana ya?” di akhir bulan. MoneyKu bukan sekadar aplikasi pencatat, tapi alat untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat dengan cara yang menyenangkan dan ramah pengguna (plus ada visual kucing yang lucu untuk mengurangi kecemasanmu soal uang!).

Pertanyaan yang Sering Muncul (FAQ) Soal Makan Hemat

Apakah food prep benar-benar menghemat uang?
Sangat! Food prep membantu kamu membeli bahan dalam jumlah banyak (grosir) yang biasanya lebih murah, dan memastikan tidak ada bahan yang terbuang karena semua sudah dipotong dan disiapkan untuk menu seminggu. Namun, pastikan kamu memiliki wadah penyimpanan yang kedap udara dan kulkas yang mumpuni agar bahan tetap segar.

Gimana cara hemat kalau nggak punya waktu masak sama sekali?
Fokuslah pada strategi “Membeli Pintar”. Hindari delivery app jika memungkinkan; lebih baik jalan kaki ke warung terdekat untuk menghindari ongkir dan biaya layanan. Selain itu, belilah porsi besar (misalnya lauk saja) yang bisa dibagi untuk dua kali makan. Selalu sedia nasi di rice cooker sendiri, karena harga satu porsi nasi putih di luar sering kali di-markup cukup tinggi.

Lebih baik beli beras literan atau karungan untuk satu orang?
Untuk satu orang, beras karung 5 kg biasanya paling ideal. Harganya lebih murah per kilonya dibandingkan beli literan setiap hari, tapi tidak terlalu banyak sehingga tidak risiko berkutu jika disimpan dengan benar. Jangan beli karung 20 kg jika kamu jarang makan di rumah, karena kualitas beras akan menurun seiring waktu.

Apa tanda pengeluaran makan saya sudah tidak sehat?
Jika pengeluaran makanmu melebihi 30-40% dari total pendapatan bulananmu (untuk ukuran lajang), itu adalah alarm merah. Idealnya, pengeluaran makan bisa ditekan di angka 15-25% agar kamu punya ruang untuk menabung dan kebutuhan lainnya. Gunakan MoneyKu untuk memantau persentase ini secara otomatis setiap bulannya.

Kesimpulan

Jadi, masak sendiri vs beli makan hemat mana? Jawabannya adalah: Masak sendiri hampir selalu lebih hemat secara nominal asalkan kamu memiliki rencana menu yang jelas, disiplin dalam belanja, dan meminimalkan bahan yang terbuang. Namun, beli makan bisa menjadi pilihan yang lebih hemat secara strategis jika waktu yang kamu hemat bisa digunakan untuk meningkatkan pendapatan atau menjaga kesehatan mentalmu agar tetap produktif.

Langkah terbaik adalah dengan mengombinasikan keduanya. Mungkin kamu bisa masak sendiri di hari kerja (Senin-Jumat) dengan teknik food prep dan memberikan dirimu reward untuk makan di luar atau pesan antar di akhir pekan. Apapun pilihanmu, pastikan setiap rupiah yang keluar tercatat dengan baik agar kamu tetap memegang kendali penuh atas masa depan finansialmu. Selamat mencoba dan semoga dompetmu makin sehat!

Share

Postingan Terkait

siapa yang menanggung biaya perbaikan rumah kontrakan

Siapa yang Menanggung Biaya Perbaikan Rumah Kontrakan? Ini 5 Aturannya!

Pernahkah kamu terbangun di tengah malam karena suara tetesan air dari atap, padahal kamu baru saja pindah ke rumah kontrakan impianmu? Atau mungkin, pompa air tiba-tiba mati tepat saat kamu sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja? Di momen-momen seperti inilah, satu pertanyaan besar biasanya langsung muncul di kepala: siapa yang menanggung biaya perbaikan rumah kontrakan ini? […]

Baca selengkapnya
rekomendasi aplikasi pengingat tagihan rumah tangga

5 Rekomendasi Aplikasi Pengingat Tagihan Rumah Tangga Anti Lupa

Pernahkah kamu merasa panik saat tiba-tiba koneksi internet di rumah terputus di tengah rapat penting, hanya untuk menyadari bahwa kamu lupa membayar tagihan bulanan? Atau mungkin kamu sering merasa kesal karena harus membayar denda keterlambatan listrik yang sebenarnya bisa dihindari jika ada pengingat yang tepat? Mengelola keuangan rumah tangga memang gampang-gampang susah, apalagi jika banyak […]

Baca selengkapnya