5 Perbandingan Biaya Admin Top Up E-Wallet Paling Murah

MochiMochi
Bacaan 15 menit
perbandingan biaya admin top up e-wallet

Pernahkah kamu merasa saldo e-wallet kamu berkurang lebih cepat dari yang seharusnya? Mungkin kamu sering mengabaikan biaya tambahan sebesar seribu atau dua ribu rupiah setiap kali melakukan pengisian saldo. Memahami perbandingan biaya admin top up e-wallet bukan sekadar mencari yang paling murah, tetapi tentang bagaimana kamu bisa menghemat uang dalam jangka panjang. Di era serba digital ini, hampir semua transaksi harian kita mulai dari pesan makan siang, bayar ojek online, hingga belanja bulanan dilakukan melalui dompet digital. Jika setiap pengisian saldo dikenakan biaya admin yang tinggi, akumulasinya dalam sebulan bisa setara dengan satu porsi makan siang yang layak. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui cara mencatat pengeluaran agar setiap rupiah yang keluar, termasuk biaya admin, tidak terbuang percuma.

Bagi banyak anak muda, pengeluaran kecil seperti biaya admin sering dianggap sebagai “biaya tak kasat mata” yang tidak perlu dipusingkan. Padahal, transparansi biaya layanan adalah hak konsumen yang harus dipahami sejak dini. Dengan melihat data terbaru mengenai perbandingan biaya admin top up e-wallet, kamu bisa menentukan strategi terbaik dalam mengisi saldo tanpa harus merasa rugi. Artikel ini akan membedah tarif terbaru dari berbagai platform populer di Indonesia seperti GoPay, OVO, Dana, ShopeePay, dan LinkAja per Februari 2026, sehingga kamu bisa lebih bijak dalam mengelola dompet digitalmu.

Mengapa Harus Cek Perbandingan Biaya Admin Top Up E-Wallet?

Banyak orang terjebak dalam psikologi “hanya seribu rupiah”. Angka Rp1.000 atau Rp1.500 memang terlihat kecil jika dilihat secara individual. Namun, bagi pengguna aktif yang melakukan top up hingga 15 atau 20 kali dalam sebulan, biaya ini bisa membengkak menjadi puluhan ribu rupiah. Tanpa melakukan perbandingan biaya admin top up e-wallet, kamu mungkin tidak sadar bahwa ada metode lain yang jauh lebih efisien atau bahkan gratis. Kesadaran akan biaya-biaya kecil ini adalah langkah awal yang krusial dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat.

Receh yang Berujung Boros

Bayangkan kamu adalah seorang mahasiswa yang harus mengatur anggaran dengan ketat. Kamu sering menggunakan tips hemat uang jajan mahasiswa untuk menekan biaya makan, namun kamu tidak sadar bahwa biaya admin top up e-wallet kamu justru menghisap anggaran tersebut secara perlahan. Jika kamu melakukan top up Rp20.000 sebanyak 10 kali dengan biaya admin Rp1.500 per transaksi, total biaya admin kamu adalah Rp15.000. Padahal, jika kamu melakukan top up sekaligus Rp200.000, kamu mungkin hanya perlu membayar biaya admin satu kali saja. Inilah alasan mengapa melakukan perbandingan biaya admin top up e-wallet secara berkala sangat disarankan.

Kebocoran halus seperti ini sering kali tidak terdeteksi jika kita tidak memiliki sistem pencatatan yang baik. Seringkali kita hanya fokus pada harga barang yang kita beli, namun melupakan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan akses pembayaran tersebut. Dengan memahami struktur biaya dari masing-masing penyedia jasa, kita bisa mengubah perilaku pengisian saldo kita dari yang tadinya impulsif dan sering, menjadi lebih terencana dan efisien.

Pentingnya Transparansi Biaya Layanan

Sebagai pengguna, kita berhak mengetahui ke mana perginya uang kita. Perusahaan e-wallet biasanya memiliki struktur biaya yang berbeda tergantung pada metode yang digunakan, apakah itu melalui Mobile Banking, ATM, minimarket, atau agen pulsa. Tanpa melihat perbandingan biaya admin top up e-wallet, kamu mungkin akan terus menggunakan metode yang paling nyaman (seperti top up di kasir minimarket) tanpa menyadari bahwa itu adalah metode dengan biaya admin termahal.

Transparansi ini juga mencakup pemahaman tentang kapan biaya tersebut dipotong. Ada layanan yang memotong biaya admin langsung dari saldo yang masuk, dan ada pula yang menambahkannya di atas nominal top up yang kamu bayar. Perbedaan kecil ini bisa membingungkan saat kamu mencoba mencocokkan catatan keuanganmu di akhir bulan. Dengan mengedukasi diri melalui perbandingan biaya admin top up e-wallet, kamu bisa menghindari kebingungan tersebut dan menjadi konsumen yang lebih cerdas.

Tabel Perbandingan Biaya Admin Top Up E-Wallet Terpopuler 2026

Memilih e-wallet yang tepat bisa sangat bergantung pada bank yang kamu gunakan atau kebiasaan belanjamu. Berikut adalah data perbandingan biaya admin top up e-wallet terbaru untuk membantu kamu melihat gambaran besarnya. Perlu diingat bahwa tarif ini dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kebijakan masing-masing penyedia layanan dan mitra perbankan.

E-Wallet Metode Top Up Biaya Admin (Est. Feb 2026) Keterangan
GoPay Mobile Banking / ATM Rp1.000 Berlaku untuk bank-bank besar.
OVO Virtual Account Bank Rp1.000 Dipotong langsung dari saldo.
Dana Transfer Bank (VA) Gratis / Rp500 Tergantung promo dan kuota gratis.
ShopeePay Indomaret / Alfamart Rp2.000 Biaya layanan retail fisik lebih mahal.
LinkAja Himbara (BNI, BRI, Mandiri) Rp0 – Rp1.000 Keunggulan ekosistem BUMN.

GoPay: Biaya via Virtual Account vs Bank Transfer

GoPay tetap menjadi salah satu pemain utama di Indonesia dengan integrasi ekosistem GoTo yang sangat kuat. Berdasarkan data terbaru, biaya admin isi saldo (top up) GoPay melalui Mobile Banking dan ATM bank besar seperti BCA, Mandiri, BRI, dan BNI tetap berada di angka Rp1.000 (Februari 2026). Ini adalah angka standar yang cukup kompetitif jika dibandingkan dengan layanan lainnya. Dalam melakukan perbandingan biaya admin top up e-wallet, GoPay sering kali dianggap sebagai opsi yang paling stabil biayanya.

Fact: Biaya admin isi saldo (top up) GoPay melalui Mobile Banking dan ATM bank besar (BCA, Mandiri, BRI, BNI) — 1.000 IDR (Februari 2026) — Source: GoPay Help Center

Namun, perlu diperhatikan bahwa jika kamu melakukan top up melalui mitra pengemudi (driver), biasanya tidak dikenakan biaya admin. Ini adalah tips kecil yang bisa kamu manfaatkan jika sedang menggunakan layanan transportasi mereka. Meskipun begitu, kebanyakan pengguna lebih memilih kenyamanan melalui aplikasi perbankan meski harus membayar biaya admin tersebut.

OVO: Update Tarif Top Up di Berbagai Merchant

OVO juga menerapkan tarif yang serupa dengan pesaing terdekatnya. Biaya admin isi saldo (top up) OVO melalui bank konvensional (BCA, Mandiri, BNI, CIMB Niaga) adalah sebesar Rp1.000 (Februari 2026). Dalam perbandingan biaya admin top up e-wallet, OVO memiliki keunggulan pada luasnya jaringan merchant fisik dan integrasi dengan aplikasi Grab serta Tokopedia. Namun, pengguna harus waspada karena beberapa bank digital mungkin menerapkan biaya yang sedikit berbeda atau memiliki skema cashback tertentu.

Fact: Biaya admin isi saldo (top up) OVO melalui bank konvensional (BCA, Mandiri, BNI, CIMB Niaga) — 1.000 IDR (Februari 2026) — Source: OVO Help Center

Salah satu hal yang sering dikeluhkan pengguna OVO adalah pemotongan saldo secara langsung. Jadi, jika kamu mengisi Rp50.000, saldo yang masuk ke akunmu adalah Rp49.000. Hal ini berbeda dengan beberapa bank yang menambahkan biaya Rp1.000 di luar nominal top up. Detail teknis seperti ini wajib diperhatikan saat kamu melakukan analisis perbandingan biaya admin top up e-wallet.

Dana: Kuota Gratis Transfer dan Syaratnya

Dana dikenal karena sering memberikan promo gratis biaya admin melalui metode tertentu. Biasanya, Dana memberikan kuota gratis transfer atau top up melalui bank-bank tertentu dengan syarat nominal minimum (misalnya Rp50.000). Jika kuota tersebut habis, biayanya bisa berkisar antara Rp500 hingga Rp1.000. Dalam konteks perbandingan biaya admin top up e-wallet, Dana sering menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menekan biaya admin hingga nol rupiah, meski harus mengikuti syarat dan ketentuan yang berlaku.

Keunggulan Dana adalah kemampuannya untuk menghubungkan kartu debit langsung ke aplikasi. Dengan metode ini, kamu tidak perlu melakukan “top up” secara manual, karena saldo akan ditarik langsung dari rekening bank saat bertransaksi. Ini adalah salah satu cara cerdas untuk menghindari biaya admin top up yang sering kali luput dari pembahasan perbandingan biaya admin top up e-wallet.

ShopeePay: Biaya Layanan di Alfamart/Indomaret

ShopeePay sangat populer di kalangan pemburu diskon e-commerce. Namun, pengisian saldo melalui jalur retail fisik seperti Alfamart atau Indomaret biasanya dikenakan biaya yang lebih mahal, mencapai Rp2.000 per transaksi. Jika kamu sering belanja di Shopee, melakukan perbandingan biaya admin top up e-wallet akan menyadarkanmu bahwa top up melalui SeaBank atau Virtual Account bank lain akan jauh lebih murah dibandingkan lewat minimarket.

Banyak pengguna yang terjebak melakukan top up di kasir minimarket karena dianggap lebih praktis saat sedang belanja fisik. Namun, jika dilakukan berkali-kali, biaya Rp2.000 ini akan sangat terasa. Dalam studi perbandingan biaya admin top up e-wallet, ShopeePay menunjukkan variasi biaya yang cukup lebar antara metode digital murni dan metode retail fisik.

LinkAja: Keunggulan Biaya untuk Ekosistem BUMN

Sebagai produk dari gabungan perusahaan BUMN, LinkAja memiliki keunggulan biaya saat berhubungan dengan bank-bank Himbara (Mandiri, BRI, BNI, BTN). Dalam beberapa skema promo, biaya admin bisa ditekan hingga Rp0 atau sangat murah. Ini menjadikan LinkAja sebagai poin penting dalam perbandingan biaya admin top up e-wallet, terutama bagi pengguna yang gajinya dibayarkan melalui bank pelat merah tersebut.

LinkAja juga sering digunakan untuk pembayaran layanan publik seperti BBM di Pertamina atau tiket transportasi umum. Efisiensi biaya di ekosistem ini membuat LinkAja tetap relevan meskipun persaingan e-wallet di Indonesia sangat ketat. Selalu cek menu promo di dalam aplikasi untuk melihat apakah ada pembaruan terkait perbandingan biaya admin top up e-wallet khusus untuk nasabah bank tertentu.

Jebakan Batman: Kesalahan Saat Top Up yang Bikin Rugi

H2: Jebakan Batman: Kesalahan Saat Top Up yang Bikin Rugi

Banyak orang berpikir bahwa mereka sudah cukup hemat, padahal mereka masih melakukan kesalahan-kesalahan mendasar saat mengisi saldo. Dalam melakukan perbandingan biaya admin top up e-wallet, kita tidak hanya melihat angka tarif, tetapi juga perilaku pengguna yang justru memicu biaya tambahan yang tidak perlu. Berikut adalah beberapa kesalahan umum yang sering disebut sebagai “Jebakan Batman” di dunia finansial digital.

Top Up Berkali-kali dalam Nominal Kecil

Ini adalah kesalahan paling umum yang dilakukan oleh Gen Z. Karena tidak ingin terlihat boros, banyak yang memilih untuk top up dalam nominal kecil seperti Rp10.000 atau Rp20.000 setiap kali ingin membeli sesuatu. Padahal, setiap kali transaksi top up dilakukan, biaya admin tetap dikenakan secara penuh. Jika kamu melakukan perbandingan biaya admin top up e-wallet, kamu akan sadar bahwa 10 kali top up Rp10.000 dengan admin Rp1.000 berarti kamu membayar pajak sebesar 10% hanya untuk biaya admin! Itu adalah angka yang sangat besar untuk sebuah efisiensi.

Solusinya adalah dengan menentukan anggaran bulanan atau mingguan. Jika kamu tahu dalam seminggu kamu akan menghabiskan sekitar Rp200.000 untuk jajan dan transportasi, lakukan top up sekaligus di awal minggu. Dengan begitu, kamu hanya terkena satu kali biaya admin. Memahami kelola keuangan pribadi akan membantumu melihat gambaran besar ini dan menghindari pemborosan recehan.

Salah Memilih Metode Pembayaran (Retail vs Digital)

Seperti yang telah kita bahas dalam perbandingan biaya admin top up e-wallet di atas, top up melalui gerai retail fisik (seperti minimarket) hampir selalu lebih mahal daripada melalui jalur digital. Selain biaya admin yang lebih tinggi, ada risiko “impulse buying” saat kamu masuk ke minimarket. Niat awal hanya ingin top up, tapi berakhir dengan membeli minuman dingin atau camilan yang tidak direncanakan.

Selalu prioritaskan top up melalui Mobile Banking atau aplikasi transfer pihak ketiga yang menawarkan biaya admin rendah atau bahkan gratis. Di tahun 2026, persaingan bank digital semakin memudahkan kita untuk melakukan transfer antar bank tanpa biaya, yang bisa dimanfaatkan untuk mengisi saldo e-wallet dengan lebih hemat. Jangan malas untuk mengeksplorasi opsi digital demi efisiensi perbandingan biaya admin top up e-wallet kamu.

Mengabaikan Biaya Settlement di Merchant Tertentu

Beberapa pengguna tidak menyadari bahwa terkadang ada biaya tambahan saat melakukan pembayaran di merchant tertentu, atau saat melakukan tarik tunai (withdraw) dari e-wallet ke rekening bank. Dalam konteks perbandingan biaya admin top up e-wallet, biaya keluar juga sama pentingnya dengan biaya masuk. Jangan sampai kamu sudah hemat saat mengisi saldo, tapi justru “bocor” saat ingin memindahkan uang kembali ke bank.

Selalu baca syarat dan ketentuan terbaru pada aplikasi e-wallet kamu. Kadang-kadang, biaya tarik tunai bisa mencapai Rp2.500 hingga Rp4.500 per transaksi. Jika tujuanmu adalah untuk menghemat uang, maka pemahaman menyeluruh tentang aliran kas masuk dan keluar di dompet digitalmu sangatlah krusial. Jadikan perbandingan biaya admin top up e-wallet sebagai pedoman komprehensifmu.

Skenario Nyata: Total Biaya Admin Kamu dalam Sebulan

Mari kita buat simulasi sederhana untuk melihat dampak nyata dari biaya admin ini. Anggaplah ada dua orang dengan kebiasaan top up yang berbeda. Dengan data perbandingan biaya admin top up e-wallet yang kita miliki, kita bisa menghitung seberapa besar perbedaan pengeluaran mereka hanya dari sisi biaya admin saja.

Si Tukang Jajan: Top Up 15x Sebulan

Budi adalah seorang mahasiswa yang hobi jajan kopi dan makanan ringan. Ia tidak suka menyimpan saldo banyak di e-wallet karena takut cepat habis. Akhirnya, setiap kali ia ingin jajan seharga Rp15.000, ia melakukan top up Rp20.000. Dalam sebulan, Budi melakukan top up sebanyak 15 kali. Jika rata-rata biaya admin dari perbandingan biaya admin top up e-wallet adalah Rp1.500, maka Budi mengeluarkan uang sebesar Rp22.500 hanya untuk biaya admin.

Angka Rp22.500 mungkin terdengar sedikit bagi sebagian orang, tapi bagi Budi, uang itu bisa digunakan untuk membayar langganan musik streaming atau membeli satu porsi makan siang tambahan. Budi sering mengabaikan tips hemat uang jajan mahasiswa yang menyarankan untuk menghindari biaya-biaya kecil yang repetitif. Ini adalah contoh nyata bagaimana kurangnya pemahaman tentang perbandingan biaya admin top up e-wallet bisa merugikan kantong.

Si Strategis: Sekali Top Up untuk Semua

Di sisi lain, ada Siska yang sangat terencana. Siska selalu menghitung perkiraan pengeluarannya di awal bulan. Ia tahu bahwa ia butuh Rp300.000 di saldo e-wallet-nya untuk kebutuhan sebulan. Siska melakukan satu kali top up besar senilai Rp300.000 melalui bank digital yang memberikan biaya admin Rp0 sesuai hasil risetnya tentang perbandingan biaya admin top up e-wallet.

Total biaya admin Siska dalam sebulan? Rp0. Dibandingkan dengan Budi, Siska berhasil menghemat Rp22.500. Dalam setahun, Siska menghemat Rp270.000. Angka ini sudah cukup untuk membeli sepatu baru atau tiket konser kelas festival. Inilah kekuatan dari memahami perbandingan biaya admin top up e-wallet dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Cara Cerdas Pantau Biaya Admin Lewat MoneyKu

Setelah kamu memahami betapa pentingnya menjaga biaya admin agar tetap rendah, langkah selanjutnya adalah memantau pengeluaran tersebut secara konsisten. Di sinilah peran teknologi menjadi sangat penting. MoneyKu adalah sebuah aplikasi pencatat keuangan yang dirancang khusus untuk membantu kamu melihat “kebocoran halus” seperti biaya admin e-wallet ini.

Disclaimer: MoneyKu adalah aplikasi yang dikembangkan oleh tim kami. Meskipun begitu, evaluasi dalam artikel ini tetap dilakukan secara objektif dengan kriteria yang sama untuk semua layanan.

Kategorikan Biaya Admin sebagai ‘Bank Fees’

Di dalam MoneyKu, kamu bisa membuat kategori khusus untuk biaya admin. Seringkali, saat mencatat pengeluaran, kita menggabungkan biaya admin ke dalam harga barang. Misalnya, beli kopi Rp15.000 ditambah admin top up Rp1.000, kita langsung mencatat Rp16.000 untuk kategori ‘Makanan’. Ini adalah kesalahan karena kamu tidak bisa melihat berapa total biaya admin yang sudah kamu keluarkan.

Dengan memisahkannya ke dalam kategori ‘Bank Fees’ atau ‘Biaya Admin’, MoneyKu akan memberikan visualisasi yang jelas di akhir bulan. Kamu mungkin akan terkejut melihat grafik biaya adminmu yang ternyata cukup tinggi. Penggunaan aplikasi tracker pengeluaran seperti MoneyKu membuat data perbandingan biaya admin top up e-wallet menjadi lebih relevan dengan kondisi keuangan pribadimu.

Gunakan Fitur Insight untuk Melihat Kebocoran Halus

MoneyKu dilengkapi dengan fitur insight yang akan memberikan ringkasan otomatis tentang pola pengeluaranmu. Jika fitur ini mendeteksi bahwa kamu terlalu sering melakukan transaksi kecil di kategori biaya admin, MoneyKu bisa memberikan pengingat atau saran untuk melakukan top up dalam nominal yang lebih besar. Ini adalah cara proaktif untuk menerapkan hasil perbandingan biaya admin top up e-wallet yang sudah kamu pelajari.

Fitur ini sangat cocok bagi Gen Z yang menginginkan segala sesuatunya cepat dan otomatis. Kamu tidak perlu lagi menghitung manual berapa rugimu bulan ini, biarkan algoritma MoneyKu yang bekerja untukmu. Dengan begitu, kamu bisa fokus pada hal lain yang lebih produktif sambil tetap menjaga kelola keuangan pribadi kamu tetap on-track.

Set Budget Bulanan Agar Tidak Over-Top-Up

Salah satu cara terbaik untuk mengontrol biaya admin adalah dengan membatasi frekuensi top up. Di MoneyKu, kamu bisa menyetel budget khusus untuk pengisian saldo e-wallet. Misalnya, kamu membatasi diri hanya boleh melakukan top up maksimal 2 kali dalam sebulan. Jika kamu mencoba mencatat top up ketiga, MoneyKu akan memberikan notifikasi bahwa kamu sudah melewati batas frekuensi yang kamu tentukan sendiri.

Ini membantu membangun kedisiplinan finansial. Dengan membatasi frekuensi, secara otomatis kamu akan terdorong untuk mencari metode yang paling murah berdasarkan perbandingan biaya admin top up e-wallet dan melakukan top up dalam nominal yang lebih besar sekaligus. Ini adalah strategi win-win untuk dompetmu.

FAQ: Hal yang Sering Ditanyakan Soal Biaya Top Up

Masih ada keraguan? Berikut adalah beberapa jawaban atas pertanyaan yang paling sering diajukan oleh pengguna terkait biaya pengisian saldo dompet digital.

Kenapa biaya admin top up e-wallet terus naik?
Biaya admin digunakan untuk menutupi biaya infrastruktur teknologi, keamanan transaksi, dan kerjasama antara penyedia e-wallet dengan pihak bank. Seiring dengan peningkatan layanan dan keamanan, terkadang terjadi penyesuaian tarif. Oleh karena itu, rajin mengecek perbandingan biaya admin top up e-wallet sangatlah penting.

Apakah ada cara top up e-wallet tanpa biaya admin sama sekali?
Ya, ada beberapa cara. Pertama, gunakan bank digital yang menawarkan promo bebas biaya transfer ke e-wallet. Kedua, manfaatkan fitur kartu debit yang terhubung langsung (direct debit) seperti yang ada di Dana atau GoPay. Ketiga, cari promo khusus yang sering ditawarkan saat hari-hari besar.

Lebih untung mana: Top up via Flip/bank digital atau langsung?
Biasanya, menggunakan perantara seperti bank digital atau aplikasi transfer pihak ketiga (seperti Flip) bisa lebih menguntungkan karena mereka sering memberikan kuota gratis transfer. Namun, pastikan kamu juga memperhitungkan waktu yang dibutuhkan untuk proses tersebut. Selalu bandingkan dengan data perbandingan biaya admin top up e-wallet terbaru.

Kenapa top up lewat minimarket jauh lebih mahal?
Top up di minimarket melibatkan biaya operasional fisik dan komisi untuk pihak gerai retail. Prosesnya juga melibatkan lebih banyak pihak dibandingkan transaksi digital murni (nasabah ke bank ke e-wallet). Inilah alasan mengapa dalam setiap perbandingan biaya admin top up e-wallet, metode retail fisik hampir selalu menempati urutan paling mahal.

Mengetahui detail perbandingan biaya admin top up e-wallet adalah langkah cerdas untuk menyelamatkan uang recehmu agar tidak terbuang percuma. Dengan strategi pengisian saldo yang tepat dan bantuan alat pelacak seperti MoneyKu, kamu bisa mengelola keuangan dengan lebih efisien tanpa harus merasa terbebani oleh biaya-biaya kecil yang tak kasat mata. Mulailah bijak dari sekarang, karena setiap rupiah sangat berarti untuk masa depan finansialmu.

Share

Postingan Terkait

apakah bayar qris kena biaya tambahan

5 Aturan Bayar QRIS Biar Gak Kena Biaya Tambahan, Wajib Tahu!

Pernah nggak sih kamu lagi asyik mau bayar kopi di kafe favorit atau jajan seblak di pinggir jalan, terus tiba-tiba kasirnya bilang, “Kak, kalau pakai QRIS ada tambahan biaya 3% ya”? Di momen itu, pasti muncul pertanyaan besar di kepala kita: apakah bayar qris kena biaya tambahan sebenarnya diperbolehkan secara aturan? Rasanya pasti kesel banget, […]

Baca selengkapnya
bayar pakai qris vs kartu debit

Bayar Pakai QRIS vs Kartu Debit: 5 Perbandingan Biar Ga Boncos

Pernah nggak kamu berdiri di depan kasir, sudah siap mau bayar, tapi tiba-tiba bingung mau buka aplikasi e-wallet buat scan kode atau justru merogoh dompet buat ambil kartu? Dilema antara bayar pakai qris vs kartu debit ini bukan cuma soal mana yang lebih keren atau kekinian, tapi juga soal efisiensi, keamanan, dan yang paling penting: […]

Baca selengkapnya
solusi transaksi qris gagal saldo terpotong

5 Solusi QRIS Gagal Saldo Terpotong: Cara Refund Saldo Tuntas

Pernah merasa jantung mau copot gara-gara pas lagi bayar kopi favorit atau belanja di minimarket, tiba-tiba muncul notifikasi ‘transaksi gagal’ tapi saldo di rekening justru berkurang? Kalau iya, kamu nggak sendirian. Kejadian saldo terpotong saat transaksi QRIS tidak berhasil adalah salah satu masalah teknis yang paling sering dikeluhkan pengguna e-wallet dan perbankan digital saat ini. […]

Baca selengkapnya