Apa Itu Gaya Hidup Frugal Living: 5 Trik Bijak Lawan Gengsi

MochiMochi
Bacaan 11 menit
apa itu gaya hidup

Pernahkah kamu merasa gaji bulanan cuma “numpang lewat” padahal baru pertengahan bulan? Atau mungkin kamu sering terjebak membeli barang branded hanya demi validasi di media sosial? Kamu tidak sendirian. Fenomena ini sering disebut sebagai “rat race” finansial, di mana kita bekerja keras hanya untuk membayar gaya hidup yang sebenarnya tidak mampu kita tanggung. Di tengah gempuran tren flexing dan godaan belanja online yang tiada habisnya, banyak anak muda mulai mencari jalan keluar. Mereka mulai bertanya-tanya tentang esensi dari cara mereka menghabiskan uang dan waktu. Di sinilah pentingnya memahami apa itu gaya hidup frugal living secara mendalam.

Konsep ini sering disalahartikan sebagai hidup super irit yang menyiksa, pelit, atau bahkan anti-sosial. Padahal, intinya adalah tentang kendali penuh atas uangmu, bukan uang yang mengendalikanmu. Memahami apa itu gaya hidup yang berorientasi pada nilai (value-based living) akan mengubah cara pandangmu terhadap setiap lembar rupiah yang kamu hasilkan.

Memahami Esensi: Apa Itu Gaya Hidup Secara Umum?

Sebelum kita masuk ke ranah finansial, kita perlu memahami terlebih dahulu apa itu gaya hidup. Secara sosiologis, gaya hidup adalah pola tingkah laku sehari-hari sekelompok orang di dalam masyarakat. Ini mencakup bagaimana kita berpakaian, apa yang kita makan, bagaimana kita menghabiskan waktu luang, dan tentu saja, bagaimana kita mengalokasikan sumber daya finansial kita.

Gaya hidup sering kali menjadi cerminan dari nilai-nilai yang kita anut. Masalahnya, di era digital ini, gaya hidup kita sering kali ditentukan oleh algoritma media sosial dan tekanan lingkungan, bukan oleh kebutuhan atau nilai pribadi kita sendiri. Itulah mengapa banyak orang terjebak dalam gaya hidup konsumtif tanpa menyadari mengapa mereka melakukannya. Mengetahui apa itu gaya hidup yang sehat secara finansial adalah langkah pertama menuju kebebasan.

Mengupas Tuntas Apa Itu Gaya Hidup Frugal Living

Banyak yang ngeri duluan mendengar kata “frugal” karena terbayang hidup serba kekurangan, makan mie instan tiap hari, atau tidak boleh nongkrong sama sekali. Mari kita luruskan miskonsepsi ini agar kita bisa melihat peluang besar di baliknya.

Mengapa Frugal Living Bukan Berarti ‘Pelit’

Perbedaan utamanya ada pada mindset. Pelit identik dengan rasa takut mengeluarkan uang, bahkan untuk kebutuhan penting sekalipun. Seorang yang pelit mungkin akan mengorbankan kesehatan atau hubungan sosial hanya demi angka di rekening. Sebaliknya, frugal living adalah tentang prioritas dan efisiensi. Kamu dengan sadar memangkas pengeluaran untuk hal-hal yang tidak penting bagimu, supaya kamu bisa menghabiskan lebih banyak uang untuk hal-hal yang benar-benar kamu hargai.

Jika kamu suka kopi artisan karena rasanya membuatmu produktif dan kamu benar-benar menikmatinya sebagai hobi, itu bukan pemborosan selama anggarannya tersedia. Tapi jika kamu membelinya setiap hari hanya demi Instagram Story sementara dompetmu menangis dan tagihan menumpuk, itulah yang perlu dievaluasi. Prinsip ini sangat beririsan dengan konsep gaya hidup minimalis yang mengutamakan esensi daripada eksistensi. Dalam konteks ini, memahami apa itu gaya hidup yang seimbang berarti tahu kapan harus berhemat dan kapan harus berinvestasi pada kualitas hidup.

Filosofi Kesadaran Finansial: Membeli Value, Bukan Gengsi

Inti dari memahami apa itu gaya hidup frugal living adalah menjadi konsumen yang sadar (conscious consumer). Sebelum tap QRIS atau checkout keranjang belanja, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah barang ini punya nilai guna jangka panjang, atau cuma lapar mata sesaat?”

Frugal living mengajarkan kita untuk menghargai setiap unit uang sebagai representasi dari waktu dan energi yang telah kita curahkan untuk bekerja. Jika kamu digaji Rp50.000 per jam, dan kamu ingin membeli sepatu seharga Rp1.000.000, tanyakan: “Apakah sepatu ini sepadan dengan 20 jam kerja saya?” Perspektif ini sering kali menjadi rem yang sangat efektif melawan keinginan impulsif.

Mengapa Gen Z Perlu Memahami Apa Itu Gaya Hidup Frugal Living?

Tahun 2026 membawa tantangan ekonomi tersendiri. Inflasi global, ketidakpastian lapangan kerja akibat otomatisasi AI, dan biaya properti yang semakin tidak masuk akal membuat strategi finansial lama tidak lagi relevan. Biaya hidup di kota besar merangkak naik, sementara godaan gaya hidup melalui iklan personalisasi semakin kencang.

Ancaman Krisis Finansial dan Pentingnya Dana Darurat

Tanpa strategi yang jelas, anak muda rentan terjebak dalam siklus “gaji habis, hutang nambah”. Memiliki gaya hidup frugal membantu kamu menyisihkan uang lebih cepat untuk membangun dana darurat. Ini adalah bantalan keamananmu saat situasi tak terduga terjadi, seperti layoff atau sakit mendadak. manajemen risiko keuangan

Faktanya, Gen Z sebenarnya sudah memiliki kesadaran menabung yang cukup baik dibandingkan generasi sebelumnya pada usia yang sama, namun godaan hiburan dan pengalaman (experience economy) tetap besar. Kita sering mendengar istilah “self-reward” yang kebablasan, di mana seseorang menghadiahi diri sendiri secara berlebihan atas pencapaian kecil, yang justru merusak stabilitas keuangan jangka panjang.

Fact: Persentase alokasi pengeluaran hiburan Generasi Z Indonesia tahun 2025 — 40 % (2025) — Source: Jakpat

Menghindari Jebakan FOMO dan Lifestyle Inflation

Seringkali saat gaji naik, gaya hidup ikut naik (lifestyle inflation). Dulu makan di warteg cukup, sekarang harus di resto viral. Dulu naik transportasi umum nyaman, sekarang harus selalu ojek online premium. Frugal living menjadi rem pakem agar kenaikan penghasilanmu lari ke aset atau investasi, bukan ke gengsi yang sifatnya sementara. Memahami apa itu gaya hidup yang berkelanjutan berarti menjaga pengeluaran tetap stabil meskipun pendapatan meningkat.

FOMO (Fear of Missing Out) adalah musuh utama dalam mengelola keuangan. Melihat teman berlibur ke luar negeri atau membeli gadget terbaru seringkali memicu rasa minder. Di sinilah kekuatan mental diperlukan untuk menyadari bahwa apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah cuplikan terbaik, bukan realitas finansial yang utuh.

5 Trik Bijak Menerapkan Frugal Living di Usia 20-an

Memulai hidup hemat tidak harus drastis hingga kamu merasa tersiksa. Kuncinya adalah konsistensi dan perubahan kecil yang akumulatif. Berikut 5 langkah taktis yang bisa kamu terapkan mulai hari ini:

1. Strategi Mindful Spending: Fokus pada Kualitas dan Cost per Wear

Salah satu prinsip utama dalam memahami apa itu gaya hidup frugal adalah mengutamakan kualitas di atas kuantitas. Lebih baik membeli satu sepatu berkualitas tinggi yang awet 3 tahun, daripada sepatu murah yang rusak tiap 3 bulan. Frugal living mengajarkan kita melihat cost per wear (biaya per pemakaian).

Misalnya, jaket seharga Rp1.000.000 yang kamu pakai 200 kali setahun memiliki biaya Rp5.000 per pemakaian. Sementara baju tren seharga Rp100.000 yang hanya kamu pakai 2 kali karena kualitasnya buruk atau trennya lewat, memiliki biaya Rp50.000 per pemakaian. Mana yang lebih hemat? Jelas yang pertama. Terapkan logika ini pada semua pembelian besar, mulai dari elektronik hingga perabot rumah tangga. investasi barang berkualitas

2. Otomatisasi Perencanaan Keuangan lewat Aplikasi

Salah satu alasan orang malas berhemat adalah karena mencatat pengeluaran terasa ribet dan menakutkan. Padahal, kuncinya adalah transparansi. Tanpa data, kamu tidak akan tahu ke mana uangmu mengalir. Kamu mungkin merasa sudah hemat, tapi ternyata “bocor halus” dari biaya administrasi bank atau langganan streaming yang terlupakan justru menyedot saldo cukup banyak.

Cobalah gunakan aplikasi seperti MoneyKu yang membuat pencatatan jadi lebih fun. Dengan tampilan visual yang tidak kaku (bahkan ada elemen kucing yang bikin rileks!), kamu jadi tidak merasa dihakimi saat melihat summary pengeluaranmu. Fitur pencatatan cepatnya membantumu melacak pengeluaran kecil—seperti jajan kopi sore atau parkir—tanpa butuh waktu lama. Dengan MoneyKu, memahami apa itu gaya hidup yang teratur jadi jauh lebih mudah karena semua data tersaji secara intuitif. aplikasi pengatur keuangan

3. Social Budgeting: Tetap Gaul Tanpa Bokek

Frugal bukan berarti anti-sosial. Kamu tetap bisa nongkrong, tapi dengan strategi yang cerdas. Seringkali kita merasa tidak enak untuk menolak ajakan teman karena takut dianggap pelit atau tidak setia kawan. Padahal, kejujuran finansial justru bisa mempererat hubungan.

Strategi yang bisa kamu pakai misalnya, makan dulu di rumah sebelum hangout agar kamu hanya perlu memesan minuman ringan di kafe. Atau, jadilah orang yang mengusulkan tempat nongkrong yang lebih terjangkau namun tetap asyik. Masalah yang sering muncul saat nongkrong rame-rame adalah pembagian tagihan yang ribet.

Gunakan fitur Split Bill di MoneyKu untuk membagi tagihan secara transparan dan adil ke teman-temanmu. Jadi, tidak ada lagi cerita “bayarin dulu” yang ujung-ujungnya lupa diganti atau salah hitung. Dengan transparansi ini, kamu bisa tetap menjaga pertemanan tanpa harus merusak anggaran bulananmu.

4. Mulai Investasi Pemula Sedini Mungkin

Uang yang kamu hemat dari gaya hidup frugal harus punya tujuan yang jelas. Jika tidak, uang tersebut akan cenderung habis untuk hal tidak penting lainnya. Alihkan selisih pengeluaranmu ke instrumen investasi yang sesuai profil risikomu agar nilainya tidak tergerus inflasi. investasi saham pemula

Memahami apa itu gaya hidup frugal berarti memahami kekuatan bunga majemuk (compound interest). Menyisihkan Rp500.000 per bulan sejak usia 20 tahun akan memberikan hasil yang jauh lebih besar dibandingkan menyisihkan Rp1.000.000 per bulan mulai usia 30 tahun. Waktu adalah aset terbesarmu saat ini. Jangan biarkan tabunganmu mengendap di rekening biasa yang bunganya habis dimakan biaya administrasi.

5. Masak Sendiri dan Food Prep

Ini trik klasik tapi paling ampuh dalam memangkas pengeluaran secara signifikan. Mengurangi frekuensi pesan antar makanan (food delivery) bisa menghemat jutaan rupiah per bulan jika dihitung secara akumulatif. Biaya layanan, ongkos kirim, dan harga menu yang biasanya lebih mahal di aplikasi adalah pengeluaran yang sebenarnya bisa dihindari.

Mulailah dengan konsep food prep atau menyiapkan bahan makanan untuk seminggu di hari Minggu. Selain hemat, kamu juga memiliki kendali penuh atas nutrisi yang masuk ke tubuhmu. Memahami apa itu gaya hidup sehat juga mencakup apa yang kita konsumsi. Membawa bekal ke kantor atau kampus bukan tanda kamu tidak mampu, melainkan tanda bahwa kamu memiliki kontrol atas hidupmu.

Dampak Psikologis dan Jangka Panjang dari Hidup Frugal

Menerapkan frugal living bukan hanya soal angka di saldo bank, tapi juga soal kesehatan mental dan ketenangan batin.

Membangun Aset dan Kebebasan Memilih

Saat teman-temanmu sibuk menyicil barang konsumtif yang nilainya terus turun seiring waktu, kamu sedang membangun portofolio aset yang nilainya naik. Di usia 30-an nanti, perbedaan net worth antara penganut frugal living dan yang tidak akan terlihat sangat mencolok. kebebasan finansial

Uang yang terkumpul memberikanmu sesuatu yang jauh lebih berharga daripada barang mewah: pilihan. Kamu punya pilihan untuk berhenti dari pekerjaan yang beracun, pilihan untuk memulai bisnis sendiri, atau pilihan untuk pensiun lebih awal. Inilah esensi sebenarnya dari memahami apa itu gaya hidup yang membebaskan.

Kesehatan Mental: Bebas dari Tekanan Hutang

Hidup di bawah kemampuan finansial memberikan ketenangan batin yang luar biasa. Kamu tidak perlu pusing dikejar tagihan paylater atau kartu kredit setiap awal bulan. Kamu tidak perlu merasa cemas jika ada kenaikan harga kebutuhan pokok karena kamu punya margin keuangan yang lebar. Tidur nyenyak tanpa beban finansial adalah kemewahan yang sering diremehkan oleh mereka yang terlalu sibuk mengejar status sosial.

Menghadapi Tantangan dalam Ber-Frugal Living

Tentu saja, perjalanan ini tidak selalu mulus. Ada kalanya kamu merasa jenuh atau merasa tertinggal dari pergaulan. Berikut beberapa cara mengatasinya:

  1. Cari Lingkungan yang Mendukung: Bertemanlah dengan orang-orang yang memiliki visi finansial serupa. Bergabung dengan komunitas finansial atau mengikuti kreator konten yang fokus pada edukasi keuangan bisa membantu menjaga motivasi.
  2. Maafkan Diri Sendiri: Jika suatu saat kamu khilaf dan berbelanja impulsif, jangan langsung menyerah. Akui kesalahannya, catat di MoneyKu agar kamu tahu dampaknya, dan mulailah lagi keesokan harinya.
  3. Fokus pada ‘Why’: Ingat kembali alasanmu memulai. Apakah untuk membeli rumah? Untuk sekolah lagi? Atau untuk membantu orang tua? Memiliki tujuan besar akan membuat pengorbanan kecil terasa lebih ringan.

Cara Transisi ke Gaya Hidup Frugal dalam 30 Hari

Jika kamu bingung harus mulai dari mana, coba lakukan tantangan 30 hari ini:

  • Minggu 1: Catat SETIAP pengeluaran tanpa kecuali. Jangan ubah kebiasaan belanja dulu, cukup observasi.
  • Minggu 2: Identifikasi 3 pengeluaran terbesar yang sebenarnya bisa dipotong (misal: langganan yang tidak dipakai, makan di luar yang terlalu sering).
  • Minggu 3: Terapkan aturan “tunggu 24 jam” sebelum membeli barang non-kebutuhan. Biasanya keinginan itu akan hilang dengan sendirinya.
  • Minggu 4: Alokasikan uang yang berhasil kamu hemat ke tabungan terpisah atau instrumen investasi sederhana.

Kesimpulan: Frugal Living Adalah Kebebasan, Bukan Siksaan

Pada akhirnya, memahami apa itu gaya hidup frugal living adalah tentang mengambil kendali atas narasi hidupmu sendiri. Kamu menjadi tuan atas uangmu, bukan budak dari keinginan sesaat, tren yang lewat, atau standar orang lain yang belum tentu cocok untukmu.

Gaya hidup ini bukan tentang berapa banyak yang kamu simpan, tapi tentang bagaimana kamu menggunakan sumber daya yang kamu miliki untuk menciptakan hidup yang lebih bermakna. Mulailah dari langkah kecil, gunakan alat bantu yang menyenangkan seperti MoneyKu untuk tetap berada di jalur yang benar, dan nikmati setiap proses perjalanan menuju kebebasan finansialmu. Ingat, kekayaan sejati bukan diukur dari apa yang kamu beli, tapi dari apa yang bisa kamu berikan dan seberapa tenang pikiranmu menghadapi masa depan.

Related reads

  • indonesia finance
  • expense tracking
  • budgeting
  • tips menabung cepat
  • manajemen utang
Share

Postingan Terkait

apakah bayar qris kena biaya tambahan

5 Aturan Bayar QRIS Biar Gak Kena Biaya Tambahan, Wajib Tahu!

Pernah nggak sih kamu lagi asyik mau bayar kopi di kafe favorit atau jajan seblak di pinggir jalan, terus tiba-tiba kasirnya bilang, “Kak, kalau pakai QRIS ada tambahan biaya 3% ya”? Di momen itu, pasti muncul pertanyaan besar di kepala kita: apakah bayar qris kena biaya tambahan sebenarnya diperbolehkan secara aturan? Rasanya pasti kesel banget, […]

Baca selengkapnya
bayar pakai qris vs kartu debit

Bayar Pakai QRIS vs Kartu Debit: 5 Perbandingan Biar Ga Boncos

Pernah nggak kamu berdiri di depan kasir, sudah siap mau bayar, tapi tiba-tiba bingung mau buka aplikasi e-wallet buat scan kode atau justru merogoh dompet buat ambil kartu? Dilema antara bayar pakai qris vs kartu debit ini bukan cuma soal mana yang lebih keren atau kekinian, tapi juga soal efisiensi, keamanan, dan yang paling penting: […]

Baca selengkapnya
solusi transaksi qris gagal saldo terpotong

5 Solusi QRIS Gagal Saldo Terpotong: Cara Refund Saldo Tuntas

Pernah merasa jantung mau copot gara-gara pas lagi bayar kopi favorit atau belanja di minimarket, tiba-tiba muncul notifikasi ‘transaksi gagal’ tapi saldo di rekening justru berkurang? Kalau iya, kamu nggak sendirian. Kejadian saldo terpotong saat transaksi QRIS tidak berhasil adalah salah satu masalah teknis yang paling sering dikeluhkan pengguna e-wallet dan perbankan digital saat ini. […]

Baca selengkapnya