Momen menerima gaji pertama adalah salah satu pencapaian terbesar dalam hidup. Rasanya campur aduk—antara bangga karena sudah mandiri secara finansial, dan mungkin sedikit bingung saat melihat notifikasi transfer masuk ke rekening. “Lho, kok angkanya beda sama yang di kontrak?” Pertanyaan ini sering sekali muncul di benak para fresh graduate yang baru saja menapaki dunia kerja. Jangan panik dulu, uangmu tidak hilang, melainkan dipotong untuk berbagai kewajiban negara dan masa depanmu, salah satunya adalah pajak.
Memahami cara menghitung PPh 21 gaji fresh graduate bukan hanya soal memastikan angka di slip gaji benar, tapi juga langkah awal menjadi dewasa secara finansial. Di tahun 2026 ini, aturan perhitungan pajak karyawan sudah menggunakan skema yang disebut Tarif Efektif Rata-rata (TER), yang sebenarnya dibuat untuk memudahkan kita. Namun, kemudahan ini kadang justru membingungkan bagi yang baru pertama kali mendengarnya. Apakah potongannya terlalu besar? Apakah perhitungan HRD sudah tepat? Dan yang paling penting, berapa sisa uang yang benar-benar bisa kita pakai untuk kebutuhan sehari-hari?
Artikel ini akan mengupas tuntas simulasi dan cara menghitung PPh 21 gaji fresh graduate dengan bahasa yang mudah dimengerti, tanpa istilah hukum yang bikin pusing. Kita juga akan membahas bagaimana mengatur sisa gaji tersebut (Gaji Net) agar tidak habis begitu saja di tengah bulan. Yuk, kita bedah satu per satu!
Kenapa Gaji Masuk Rekening Beda dengan Angka di Kontrak?
Sebelum kita masuk ke rumus-rumus matematika dan simulasi cara menghitung PPh 21 gaji fresh graduate, kita perlu meluruskan satu hal mendasar: struktur gaji karyawan. Saat kamu menandatangani offer letter atau kontrak kerja, angka yang tertera di sana biasanya adalah Gaji Kotor atau Gross Salary.
Bedanya Gaji Gross dan Gaji Net (Take Home Pay)
Banyak fresh graduate yang mengira angka di kontrak adalah angka final yang akan masuk ke rekening bank. Padahal, angka tersebut adalah basis perhitungan sebelum dikurangi berbagai potongan wajib. Inilah pentingnya memahami perbedaan gaji gross dan net sejak awal karier kamu.
Gaji Gross (Bruto): Ini adalah total imbalan kerja yang disepakati. Komponennya bisa terdiri dari Gaji Pokok (Basic Salary) dan Tunjangan Tetap (seperti tunjangan jabatan atau tunjangan komunikasi). Angka inilah yang menjadi dasar perhitungan pajak dan iuran BPJS.
Gaji Net (Take Home Pay): Ini adalah uang yang benar-benar kamu terima di rekening. Rumus sederhananya adalah:
Gaji Net = Gaji Gross – (PPh 21 + Iuran BPJS Ketenagakerjaan + Iuran BPJS Kesehatan + Potongan Lain)
Jadi, jika kamu merasa gajimu “disunat”, sebenarnya itu adalah kontribusi wajib yang diatur oleh undang-undang. Selain pajak (PPh 21), biasanya ada potongan BPJS Ketenagakerjaan (JHT 2% dan JP 1% dari gaji) serta BPJS Kesehatan (1% dari gaji). Potongan-potongan ini adalah tabungan masa depan dan asuransi kesehatanmu. Namun, fokus kita kali ini adalah pada komponen yang seringkali paling membingungkan: Pajak Penghasilan Pasal 21 atau PPh 21.
Kewajiban Pajak Penghasilan (PPh 21) bagi Karyawan Baru
PPh 21 adalah pajak yang dikenakan atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain yang diterima oleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri. Sebagai warga negara yang baik dan sudah berpenghasilan, kita wajib membayar pajak ini. Kabar baiknya, bagi karyawan, pajak ini biasanya sudah dipotong langsung oleh perusahaan (sistem withholding tax). Jadi, kamu tidak perlu repot-repot menyetor sendiri ke bank setiap bulan. Perusahaanlah yang akan memotong, menyetorkan, dan melaporkannya untukmu.
Meski begitu, memahami cara menghitung PPh 21 gaji fresh graduate tetap krusial agar kamu bisa melakukan cross-check slip gaji. Apakah potongan pajakmu sudah sesuai dengan aturan terbaru? Apalagi di tahun 2026 ini, pemerintah masih menerapkan aturan turunan dari UU HPP yang menggunakan skema Tarif Efektif Rata-rata (TER) untuk pemotongan bulanan.
Dasar Perhitungan PPh 21 Terbaru (Skema TER)
Sejak awal tahun 2024, pemerintah memperkenalkan metode perhitungan pajak bulanan yang lebih sederhana menggunakan Tarif Efektif Rata-rata (TER). Aturan ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2023 dan PMK Nomor 168 Tahun 2023. Tujuan utamanya adalah memudahkan bagian HRD (dan karyawan) dalam menghitung potongan pajak setiap bulannya (Januari hingga November).
Apa itu Tarif Efektif Rata-rata (TER)?
Jika dulu HRD harus menghitung pajak bulanan dengan rumus yang sangat panjang (dikurangi biaya jabatan, iuran pensiun, disetahunkan, lalu dibagi 12 lagi), sekarang cukup melihat tabel. Cara menghitung PPh 21 gaji fresh graduate dengan TER sangat simpel: Gaji Bruto Bulanan x Persentase Tarif TER.
Tarif TER ini dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan status PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) kamu, yaitu Kategori A, B, dan C. Untuk mayoritas fresh graduate, kita akan fokus pada Kategori A.
Mengenal PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) untuk Status Lajang (TK/0)
Salah satu komponen paling penting dalam pajak adalah PTKP. Negara beranggapan bahwa setiap orang butuh sejumlah uang minimal untuk hidup layak yang tidak boleh dipajaki. Jadi, pajak hanya dikenakan pada penghasilan di atas batas PTKP ini.
Bagi kamu yang baru lulus kuliah, belum menikah, dan belum memiliki tanggungan anak atau orang tua pensiunan yang ditanggung sepenuhnya, status pajakmu adalah TK/0 (Tidak Kawin, 0 Tanggungan).
Fact: Besaran Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) tahun 2026 untuk status TK/0 (Tidak Kawin, 0 Tanggungan) — 54.000.000 IDR (per tahun) — Source: Undang-Undang HPP / PMK No. 101/PMK.010/2016
Status TK/0 ini masuk ke dalam TER Kategori A. Ini adalah kategori dengan tarif pajak paling ringan dibandingkan kategori lainnya (Kategori B untuk yang sudah menikah, Kategori C untuk menikah dengan penghasilan digabung). Kamu bisa mengecek daftar PTKP terbaru untuk memastikan apakah statusmu berubah jika nanti kamu menikah atau memiliki tanggungan.
Kapan Menggunakan Tarif TER vs Tarif Pasal 17?
Ini adalah poin yang sering membuat bingung. Cara menghitung PPh 21 gaji fresh graduate sebenarnya melibatkan dua metode yang berbeda dalam satu tahun kalender:
- Masa Pajak Januari – November: Menggunakan tarif TER Bulanan. Perhitungannya sangat simpel, hanya dikali persentase dari tabel.
- Masa Pajak Desember: Menggunakan tarif Pasal 17 (tarif progresif) yang dihitung ulang berdasarkan total penghasilan setahun (Januari-Desember) dikurangi PTKP, lalu dikurangi pajak yang sudah dibayar di bulan Jan-Nov. Hasilnya adalah pajak yang harus dibayar di bulan Desember.
Jadi, jangan kaget jika nanti potongan pajakmu di bulan Desember bisa berbeda (bisa lebih besar atau lebih kecil) dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Ini adalah mekanisme true-up untuk memastikan pajak yang kamu bayar setahun benar-benar presisi sesuai undang-undang.
Simulasi: Cara Menghitung PPh 21 Gaji Fresh Graduate (Gaji 6 Juta)
Agar lebih jelas, mari kita masuk ke simulasi nyata. Kita akan menggunakan contoh kasus seorang fresh graduate bernama Budi.
Profil Budi:
- Status: Lajang, tidak ada tanggungan (TK/0).
- Gaji Pokok + Tunjangan Tetap (Gaji Bruto): Rp 6.000.000 per bulan.
- NPWP: Sudah punya.
- Lokasi: Jakarta (UMR 2026 diasumsikan sekitar Rp 5,3 juta, jadi gaji Budi di atas UMR).
Mari kita praktikkan cara menghitung PPh 21 gaji fresh graduate untuk Budi.
Langkah 1: Tentukan Status PTKP dan Gaji Bruto
Seperti yang sudah dibahas, status Budi adalah TK/0. Karena statusnya TK/0, Budi masuk ke dalam tabel TER Kategori A.
Gaji Bruto Budi adalah Rp 6.000.000. Angka ini adalah dasar pengali tarif pajak.
Langkah 2: Cek Kategori TER (Kategori A)
Sekarang kita perlu melihat tabel Tarif Efektif Rata-rata Kategori A yang diterbitkan pemerintah. Berdasarkan PP 58/2023, tarif untuk Kategori A diatur berdasarkan rentang penghasilan bruto bulanan.
Berikut adalah potongan tabel TER Kategori A yang relevan untuk gaji entry level:
| Rentang Penghasilan Bruto Bulanan | Tarif TER |
|---|---|
| Sampai dengan Rp 5.400.000 | 0% |
| Di atas Rp 5.400.000 – Rp 5.650.000 | 0.25% |
| Di atas Rp 5.650.000 – Rp 5.950.000 | 0.5% |
| Di atas Rp 5.950.000 – Rp 6.300.000 | 0.75% |
| Di atas Rp 6.300.000 – Rp 6.750.000 | 1% |
Fact: Batas penghasilan bruto bulanan dengan tarif TER Kategori A 0% (nihil pajak) — 5.400.000 IDR (per bulan) — Source: PP No. 58 Tahun 2023 / PMK No. 168 Tahun 2023
Karena gaji Budi adalah Rp 6.000.000, maka ia masuk dalam rentang “Di atas Rp 5.950.000 – Rp 6.300.000”. Tarif pajaknya adalah 0.75%.
Langkah 3: Hitung Potongan Bulanan
Setelah mengetahui tarifnya, cara menghitung PPh 21 gaji fresh graduate menjadi sangat mudah:
PPh 21 Bulan Januari = Gaji Bruto x Tarif TER
PPh 21 Bulan Januari = Rp 6.000.000 x 0.75%
PPh 21 Bulan Januari = Rp 45.000
Jadi, potongan pajak Budi di bulan Januari (dan bulan-bulan seterusnya selama gajinya tetap) hanyalah Rp 45.000. Angka yang relatif kecil dan tidak terlalu memberatkan, bukan?
Hasil Akhir: Berapa Gaji Bersih yang Diterima?
Sekarang mari kita hitung Take Home Pay Budi. Ingat, selain PPh 21, ada potongan BPJS.
- BPJS Ketenagakerjaan (JHT 2%): Rp 6.000.000 x 2% = Rp 120.000
- BPJS Ketenagakerjaan (JP 1%): Rp 6.000.000 x 1% = Rp 60.000
- BPJS Kesehatan (1%): Rp 6.000.000 x 1% = Rp 60.000
- Total Potongan BPJS: Rp 240.000
Total Potongan = PPh 21 + BPJS = Rp 45.000 + Rp 240.000 = Rp 285.000.
Gaji Net (Masuk Rekening):
Rp 6.000.000 – Rp 285.000 = Rp 5.715.000.
Inilah uang yang bisa Budi gunakan untuk biaya kos, makan, transport, dan menabung. Dengan mengetahui simulasi ini, kamu tidak akan kaget lagi saat melihat mutasi rekening di tanggal gajian.
Kesalahan Umum Fresh Graduate Soal Pajak
Meskipun cara menghitung PPh 21 gaji fresh graduate dengan TER terlihat simpel, masih banyak jebakan atau kesalahpahaman yang sering dialami pekerja baru. Menghindari kesalahan ini bisa menyelamatkan dompetmu dari potongan tak terduga.
Tidak Punya NPWP (Potongan Bisa Lebih Besar)
Ini adalah kesalahan klasik. Banyak fresh graduate menunda membuat NPWP karena merasa belum perlu atau ribet. Padahal, jika kamu tidak memiliki NPWP, kamu bisa dikenakan tarif pajak 20% lebih tinggi daripada tarif normal. Meski saat ini NIK (KTP) sudah mulai divalidasi sebagai NPWP, proses pemadanan data tetap harus dilakukan.
Jangan sampai gaji pertamamu terpotong lebih besar hanya karena malas mengurus administrasi. Segera cari tahu cara daftar NPWP online agar kamu terdaftar secara resmi di sistem perpajakan dan dikenakan tarif normal.
Kaget dengan Perhitungan Ulang di Bulan Desember
Seperti yang disinggung sebelumnya, bulan Desember adalah momen “penghakiman”. Perusahaan akan menghitung total gajimu setahun, menghitung pajak setahun (Pasal 17), lalu dikurangi pajak yang sudah kamu bayar dari Januari sampai November (TER). Selisihnya adalah pajak Desember.
Seringkali, terutama jika kamu mendapat bonus atau THR di tengah tahun, perhitungan TER bulanan belum sepenuhnya menutupi kewajiban pajak tahunanmu. Akibatnya, potongan pajak di bulan Desember bisa tiba-tiba melonjak. Ini bukan kesalahan HRD, tapi memang mekanisme sistemnya. Solusinya? Siapkan dana darurat atau tabungan ekstra menjelang akhir tahun.
Menganggap Tunjangan Makan/Transport Bebas Pajak
Banyak yang mengira hanya gaji pokok yang kena pajak. Padahal, dalam aturan PPh 21, hampir semua penghasilan yang bersifat teratur maupun tidak teratur (seperti uang lembur, tunjangan makan, tunjangan transport yang dibayarkan tunai) adalah objek pajak. Komponen-komponen ini akan dijumlahkan menjadi Gaji Bruto. Jadi, saat menerapkan cara menghitung PPh 21 gaji fresh graduate, pastikan kamu menjumlahkan semua komponen tunai yang kamu terima, bukan hanya gaji pokoknya saja.
Gaji Bersih Sudah di Tangan, Jangan Sampai Lewat Begitu Saja
Setelah susah payah bekerja dan memahami cara menghitung PPh 21 gaji fresh graduate, sekarang saatnya bagian yang paling krusial: mengelola uang tersebut. Gaji Rp 5,7 juta (dari contoh Budi) bisa terasa cukup, atau bisa juga terasa sangat kurang, tergantung gaya hidupmu.
Pisahkan Kebutuhan Pokok vs Keinginan
Prinsip dasar yang tak lekang oleh waktu adalah memisahkan Needs (Kebutuhan) dan Wants (Keinginan). Segera setelah gaji masuk:
- Bayar Kewajiban: Kos, listrik, paket data, cicilan (jika ada).
- Sisihkan Tabungan: Idealnya di awal, bukan menyisihkan sisa di akhir bulan.
- Alokasikan Biaya Hidup: Makan dan transport untuk 30 hari ke depan.
- Sisa untuk Hiburan: Kopi kekinian, nonton bioskop, atau subscription streaming.
Kamu bisa membaca lebih lanjut tentang tips mengatur gaji pertama untuk mendapatkan strategi pembagian pos anggaran yang lebih detail, misalnya metode 50/30/20 yang populer.
Catat Pengeluaran Harian agar Tidak ‘Boncos’ di Tengah Bulan
Masalah utama fresh graduate biasanya bukan gaji yang kecil, tapi pengeluaran kecil yang tidak terasa (biasa disebut Latte Factor). Jajan cilok Rp 10.000, kopi Rp 25.000, biaya admin top-up e-wallet Rp 1.000—kalau dijumlahkan sebulan bisa ratusan ribu.
Mencatat pengeluaran secara manual di buku tulis mungkin membosankan dan tidak praktis. Di sinilah teknologi bisa membantumu.
Manfaatkan Fitur MoneyKu untuk Tracking Budget Simpel
Kamu tidak perlu menjadi ahli akuntansi untuk bisa mengatur uang. Aplikasi pencatat keuangan seperti MoneyKu didesain khusus untuk memudahkan proses ini. Dengan MoneyKu, kamu bisa mencatat pengeluaran harian semudah mengirim chat.
Fitur Spending Categorization di MoneyKu sangat membantu untuk melihat ke mana sebenarnya larinya gajimu. Apakah kategori “Makanan” memakan 40% gaji? Atau kategori “Transportasi” yang membengkak? Data visual ini akan membuatmu sadar ( aware ) dan lebih bijak mengambil keputusan finansial bulan depan. Selain itu, fitur Saving Plans bisa membantumu menetapkan target tabungan (misalnya: “Dana Darurat” atau “Beli Laptop Baru”) dan memantau progresnya secara real-time.
Ingat, MoneyKu bukan aplikasi untuk menghitung pajak otomatis, tapi teman setiamu dalam menjaga agar gaji yang sudah dipotong pajak itu tetap sehat sampai akhir bulan.
FAQ Seputar Pajak Gaji Pertama
Masih ada yang mengganjal soal cara menghitung PPh 21 gaji fresh graduate? Berikut adalah jawaban cepat untuk pertanyaan yang sering diajukan teman-temanmu.
Apakah gaji UMR kena pajak PPh 21?
Tergantung besaran UMR dan status PTKP daerah tersebut. Di tahun 2026, batas aman tidak kena pajak (TER 0%) untuk lajang (TK/0) adalah gaji bruto di bawah Rp 5.400.000. Jika UMR daerahmu di atas angka tersebut, kamu akan kena pajak (biasanya tarif 0.25% atau 0.5%). Namun, jika UMR di bawah Rp 5,4 juta, maka potongan pajaknya Rp 0 alias nihil.
Bagaimana jika gaji saya di bawah PTKP?
Jika total penghasilan setahunmu di bawah PTKP (Rp 54 juta setahun untuk TK/0) atau gaji bulananmu di bawah Rp 5,4 juta, maka kamu tidak dikenakan PPh 21. Perusahaan tidak akan memotong pajak dari gajimu. Namun, jika kamu memiliki NPWP, kamu tetap disarankan untuk melapor SPT Tahunan dengan status Nihil.
Apakah masa percobaan (probation) sudah kena pajak?
Ya, status kepegawaian (kontrak, tetap, atau probation) tidak menghapus kewajiban pajak. Selama penghasilanmu memenuhi syarat objektif (di atas PTKP), kamu tetap akan dipotong pajak sesuai aturan yang berlaku.
Apa bedanya potongan BPJS dan PPh 21?
Sangat beda. BPJS (Kesehatan dan Ketenagakerjaan) adalah iuran untuk perlindungan sosial dan tabungan hari tua yang manfaatnya akan kembali ke kamu. Sedangkan PPh 21 adalah pajak negara yang digunakan untuk pembangunan umum. Keduanya adalah potongan wajib, tapi tujuannya berbeda. Pastikan kamu mengecek keduanya di slip gaji.
Memahami cara menghitung PPh 21 gaji fresh graduate memang terlihat teknis di awal, tapi setelah tahu logikanya, kamu akan merasa lebih tenang dan berdaya. Kamu jadi tahu hak dan kewajibanmu, serta bisa merencanakan keuangan dengan lebih matang. Selamat menikmati gaji pertama, dan jangan lupa catat setiap pengeluaranmu agar dompet tetap aman!




