Perbedaan QRIS Statis dan Dinamis: 5 Hal Penting & Untung

MochiMochi
Bacaan 10 menit
perbedaan qris statis dan dinamis

Pernah nggak sih kamu lagi mau bayar kopi, terus bingung lihat ada kode QR yang cuma ditempel stiker di meja, tapi di kafe sebelah kodenya muncul di layar mesin kasir? Nah, itu dia contoh nyata perbedaan qris statis dan dinamis yang sering kita temui sehari-hari. Memahami perbedaan keduanya bukan cuma soal teknologi, tapi soal gimana bikin operasional bisnis kamu makin efisien dan jualan makin untung di tahun 2026.

Di tengah pesatnya adopsi transaksi non-tunai di Indonesia, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) telah menjadi penyelamat bagi jutaan UMKM. Namun, banyak pemilik bisnis yang masih bingung harus mulai dari mana. Apakah cukup dengan menempel stiker, atau harus investasi ke mesin EDC? Jawaban dari pertanyaan ini sangat bergantung pada pemahaman kamu mengenai perbedaan qris statis dan dinamis dari berbagai sudut pandang operasional.

Catatan: Artikel ini disusun oleh tim MoneyKu. Kami menerapkan standar evaluasi yang objektif untuk semua layanan dan aplikasi yang disebutkan agar kamu tetap mendapatkan panduan yang jujur dan bermanfaat.

Apa Itu QRIS Statis dan Dinamis?

Sebelum masuk ke detailnya, kita perlu paham dulu konsep dasarnya. Bayangkan QRIS itu seperti alamat rumah untuk uang digitalmu. Di zaman serba transaksi non-tunai ini, punya QRIS sudah jadi kewajiban kalau nggak mau kehilangan pelanggan yang malas bawa dompet. Sejak diluncurkan oleh Bank Indonesia, QRIS bertujuan untuk mengintegrasikan berbagai macam alat pembayaran (e-wallet dan mobile banking) ke dalam satu kode universal.

Definisi QRIS Statis: Si Stiker Andalan UMKM

QRIS Statis adalah kode QR permanen yang biasanya dicetak dalam bentuk stiker, akrilik, atau pajangan di meja kasir. Kodenya nggak pernah berubah karena data yang tertanam di dalamnya bersifat tetap (Merchant Presented Mode – Static). Pelanggan cukup scan, lalu mereka harus input nominal sendiri. Ini adalah solusi paling simpel dan ekonomis buat kamu yang baru mulai bisnis atau punya toko fisik kecil-kecilan dengan frekuensi transaksi yang tidak terlalu padat.

Definisi QRIS Dinamis: Solusi ‘Sat Set’ untuk Bisnis Modern

Berbeda dengan saudaranya, QRIS Dinamis adalah kode yang dibuat khusus untuk setiap transaksi (Merchant Presented Mode – Dynamic). Kodenya muncul di layar HP, tablet, atau mesin EDC setelah kasir memasukkan total belanjaan. Begitu di-scan, nominal pembayaran sudah otomatis muncul di layar HP pelanggan. Jadi, pelanggan nggak perlu ketik-ketik lagi, tinggal bayar. Bener-bener definisi “sat set” yang disukai pelanggan zaman sekarang, terutama di gerai ritel besar atau restoran dengan mobilitas tinggi.

5 Perbedaan QRIS Statis dan Dinamis yang Wajib Pebisnis Tahu

Biar makin jelas, yuk bedah apa saja poin yang membedakan keduanya secara mendalam. Mengetahui perbedaan qris statis dan dinamis sangat krusial buat keamanan dan kelancaran arus kas kamu agar tidak terjadi selisih di akhir hari.

Fitur QRIS Statis QRIS Dinamis
Tampilan Kode Tetap (Stiker/Print) Berubah setiap transaksi
Input Nominal Manual oleh pelanggan Otomatis dari sistem
Verifikasi Cek bukti transfer di HP pelanggan Notifikasi otomatis di sistem POS
Keamanan Risiko stiker ditumpuk/salah nominal Lebih aman & validasi real-time
Alat Pendukung Cukup print kertas/stiker Butuh HP, Tablet, atau EDC

1. Tampilan Kode: Permanen vs Unik Per Transaksi

QRIS statis itu sekali cetak buat selamanya (sampai rusak atau pudar). Sedangkan dinamis bakal selalu beda setiap kali ada transaksi baru. Kenapa ini penting? Kode unik pada QRIS dinamis membantu sistem mengenali transaksi mana yang sudah dibayar. Jika kamu memiliki 10 pelanggan yang membayar Rp50.000 secara bersamaan, sistem QRIS dinamis bisa membedakan mana yang sudah lunas dan mana yang belum tanpa perlu kamu tanya “Atas nama siapa, Kak?”.

2. Input Nominal: Manual vs Otomatis

Di QRIS statis, pelanggan sering salah ketik nominal. Misalnya, belanja Rp100.000 tapi yang diketik Rp10.000—kurang nol satu saja sudah rugi besar, kan? Drama salah bayar ini adalah salah satu poin utama dalam perbedaan qris statis dan dinamis. Dengan QRIS dinamis, nominal sudah terkunci di dalam kode QR tersebut. Pelanggan hanya perlu menekan tombol ‘Bayar’, sehingga risiko human error bisa ditekan hingga nol persen.

3. Keamanan: Risiko Salah Transfer vs Validasi Real-time

Risiko terbesar QRIS statis adalah stiker palsu yang ditempel orang jahat (QRIS Tampering). Sudah banyak kasus di mana stiker QRIS di masjid atau toko ditumpuk dengan stiker milik penipu. Kalau dinamis, kodenya muncul di perangkat kamu sendiri (layar EDC atau Tablet), jadi jauh lebih aman dari sabotase fisik. Kamu juga bisa langsung tahu kalau pembayaran sudah masuk melalui notifikasi sistem, bukan sekadar melihat tangkapan layar (screenshot) pelanggan yang bisa saja dipalsukan.

4. Laporan Keuangan: Rekonsiliasi Manual vs Automasi POS

Pakai statis berarti kamu harus mencatat manual di buku atau spreadsheet di akhir hari dengan mencocokkan mutasi bank. Ini memakan waktu dan melelahkan. Sebaliknya, poin perbedaan qris statis dan dinamis yang paling disukai pemilik bisnis besar adalah integrasi datanya. QRIS dinamis biasanya sudah terhubung dengan sistem kasir (Point of Sale), jadi laporan penjualan langsung terupdate otomatis begitu transaksi sukses. Rekonsiliasi jadi jauh lebih cepat.

5. Alat Pendukung: Cukup Print vs Perlu Device/EDC

QRIS statis menang di sisi biaya awal karena cuma butuh biaya cetak stiker atau akrilik yang murah meriah. Sementara itu, QRIS dinamis membutuhkan investasi lebih untuk perangkat pendukung seperti smartphone, tablet, atau mesin EDC khusus. Selain itu, biasanya ada biaya langganan aplikasi kasir (SaaS) agar fitur dinamis ini bisa berjalan maksimal. Namun, investasi ini biasanya sebanding dengan efisiensi yang didapatkan.

Fact: Kategori merchant (BLU, PSO, dan UMI untuk transaksi hingga Rp500.000) yang mendapatkan tarif MDR QRIS — 0 persen (2025) — Source: Bank Indonesia

Memahami tarif-mdr-qris di atas penting banget biar kamu bisa hitung berapa bersih cuan yang masuk ke kantong setelah dipotong biaya admin. indonesia finance

Mengapa Keamanan QRIS Statis Perlu Diperhatikan?

Walaupun praktis, QRIS statis memiliki celah keamanan yang sering dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab. Fenomena “ganti stiker” menjadi momok bagi pedagang kecil. Sebagai pemilik bisnis, kamu harus rutin mengecek kondisi fisik stiker QRIS di mejamu. Pastikan tidak ada lapisan stiker lain di atasnya.

Jika kamu mulai merasa khawatir dengan keamanan transaksi, memahami perbedaan qris statis dan dinamis dari sisi enkripsi data juga penting. QRIS dinamis menghasilkan kode yang memiliki masa berlaku singkat (biasanya 5-15 menit). Jika tidak dibayar dalam waktu tersebut, kode akan hangus. Hal ini mencegah penyalahgunaan kode lama untuk transaksi baru, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh QRIS statis.

Cara Kerja QRIS Dinamis dalam Sistem Kasir (POS)

Bagi kamu yang ingin naik kelas, integrasi QRIS dinamis ke dalam Point of Sale (POS) adalah langkah cerdas. Berikut adalah alur kerjanya:

  1. Kasir memasukkan item belanjaan ke sistem POS.
  2. Sistem menjumlahkan total harga.
  3. Kasir memilih metode pembayaran “QRIS”.
  4. Sistem POS menghubungi server penyedia jasa pembayaran (PJP) untuk meminta kode QR unik.
  5. Kode QR muncul di layar atau dicetak di struk.
  6. Pelanggan scan dan bayar.
  7. Sistem POS menerima konfirmasi otomatis dan mencetak struk bukti bayar.

Alur ini jauh lebih profesional dan meminimalisir antrean panjang di depan kasir, terutama saat jam makan siang atau weekend.

Mana yang Lebih Menguntungkan: Statis atau Dinamis?

Nggak ada yang mutlak lebih baik, semua tergantung kebutuhan dan skala bisnis kamu saat ini. Saat mempertimbangkan perbedaan qris statis dan dinamis, coba lihat volume transaksi harianmu.

Kapan Harus Tetap Pakai QRIS Statis?

  • Bisnis Mikro: Kamu jualan di pinggir jalan (street food), gerobak, atau toko kelontong sederhana.
  • Frekuensi Rendah: Jumlah transaksi harian belum terlalu padat, sehingga kamu masih punya waktu untuk mengecek bukti bayar di HP pelanggan secara manual.
  • Efisiensi Biaya: Ingin menekan biaya operasional sekecil mungkin tanpa perlu membeli gadget tambahan.
  • Mobilitas Tinggi: Jika kamu sering berpindah tempat (jualan keliling), membawa stiker tentu lebih ringkas daripada membawa mesin EDC.

Kapan Waktunya Upgrade ke QRIS Dinamis?

  • Antrean Menumpuk: Pelanggan sering mengeluh lama di kasir karena harus input nominal manual dan menunggu verifikasi.
  • Butuh Akurasi Tinggi: Kamu sering kewalahan mencatat laporan keuangan manual dan sering terjadi selisih uang masuk.
  • Bisnis Terorganisir: Bisnis kamu sudah menggunakan aplikasi-kasir-digital untuk manajemen stok dan ingin semua data terpusat.
  • Keamanan Prioritas: Lokasi bisnismu berada di tempat publik yang rawan sabotase stiker (seperti food court terbuka).

Tips Memilih Penyedia QRIS (PJP)

Setelah memahami perbedaan qris statis dan dinamis, langkah selanjutnya adalah memilih Penyelenggara Jasa Pembayaran (PJP). Beberapa tips yang bisa kamu ikuti:

  • Cek Kecepatan Pencairan (Settlement): Ada PJP yang mencairkan dana di H+1, ada juga yang bisa real-time atau beberapa kali dalam sehari. Untuk arus kas UMKM, kecepatan pencairan sangat vital.
  • Biaya Admin/MDR: Bandingkan tarif MDR antar PJP. Pastikan mereka mematuhi batas atas yang ditetapkan Bank Indonesia.
  • Kemudahan Aplikasi: Pilih PJP yang memiliki aplikasi merchant yang mudah digunakan untuk memantau transaksi masuk.
  • Layanan Konsumen: Pastikan mereka responsif jika terjadi kendala transaksi gantung atau dana belum masuk.

Untuk mengelola keuntungan dari transaksi QRIS ini, kamu juga butuh alat pendukung biar uang jualan nggak tercampur sama uang jajan. Berikut rekomendasi aplikasi pengatur keuangan untuk kamu:

  1. MoneyKu
    Aplikasi ini jadi pilihan utama karena tampilannya yang super friendly (ada visual kucing yang lucu!) dan fitur fast expense logging yang bikin kamu nggak malas catat pengeluaran. Cocok banget buat pebisnis muda yang mau pantau cash flow secara visual tanpa pusing. Plus point: Ada fitur saving plan buat target ekspansi bisnismu. Minus: Input data masih manual (namun sangat cepat), belum otomatis tarik data dari m-banking. expense tracking

  2. BukuKas
    Fokus pada pencatatan transaksi bisnis UMKM dan bisa kirim tagihan ke pelanggan secara digital via WhatsApp.

  3. Monefy
    Punya desain minimalis yang fokus pada kategori pengeluaran harian dengan visualisasi pie chart yang intuitif. budgeting

FAQ: Pertanyaan Seputar QRIS Statis dan Dinamis

1. Apakah pedagang kecil bisa punya QRIS dinamis?
Bisa saja, asalkan memiliki perangkat seperti smartphone atau tablet dan menggunakan aplikasi kasir yang mendukung fitur tersebut. Namun, untuk pedagang sangat kecil, QRIS statis biasanya sudah mencukupi.

2. Apakah ada biaya bulanan untuk QRIS?
Umumnya untuk QRIS statis tidak ada biaya bulanan, hanya potongan MDR per transaksi. Untuk QRIS dinamis, biayanya mungkin muncul dari biaya sewa mesin EDC atau langganan aplikasi kasir (POS).

3. Bagaimana jika pelanggan sudah bayar tapi notifikasi tidak muncul?
Ini sering terjadi karena kendala jaringan. Mintalah pelanggan menunjukkan riwayat transaksi di aplikasi mereka. Jika menggunakan QRIS dinamis, sistem biasanya akan melakukan sinkronisasi ulang secara otomatis dalam beberapa menit.

4. Apa perbedaan qris statis dan dinamis dari sisi tampilan bagi pelanggan?
Bagi pelanggan, tampilannya hampir sama. Perbedaannya hanya saat scan: pada QRIS statis pelanggan harus mengetik angka, sedangkan pada QRIS dinamis angka tersebut sudah langsung muncul.

5. Bisakah satu toko punya keduanya?
Tentu bisa. Banyak kafe yang menempel QRIS statis di meja untuk pesanan mandiri, namun juga menyediakan QRIS dinamis di meja kasir utama untuk pembayaran yang lebih cepat.

Kesimpulan: Siapkan Bisnis untuk Tren Pembayaran 2026

Memilih antara QRIS statis atau dinamis adalah langkah awal buat bikin bisnismu naik kelas. Di tahun 2026 nanti, gaya hidup cashless bakal makin mendominasi dengan adanya integrasi QRIS antarnegara (Cross-border QRIS) yang memungkinkan turis asing membayar langsung di tokomu menggunakan aplikasi negara asal mereka. Jadi, pastikan sistem pembayaranmu sudah siap menghadapi tantangan global ini.

Fact: Target jumlah pengguna QRIS aktif yang ditetapkan Bank Indonesia — 60.000.000 pengguna (2026) — Source: Bank Indonesia

Kalau kamu belum punya, sekarang waktu yang tepat buat cari tahu daftar-qris-gratis dan mulai terima pembayaran digital. Jangan sampai bisnismu ketinggalan zaman cuma gara-gara urusan cara bayar! Dengan memahami segala aspek dan perbedaan qris statis dan dinamis, kamu sudah selangkah lebih maju dalam mengamankan masa depan finansial bisnismu.

Related reads

  • indonesia finance
  • expense tracking
  • budgeting
Share

Postingan Terkait

apakah bayar qris kena biaya tambahan

5 Aturan Bayar QRIS Biar Gak Kena Biaya Tambahan, Wajib Tahu!

Pernah nggak sih kamu lagi asyik mau bayar kopi di kafe favorit atau jajan seblak di pinggir jalan, terus tiba-tiba kasirnya bilang, “Kak, kalau pakai QRIS ada tambahan biaya 3% ya”? Di momen itu, pasti muncul pertanyaan besar di kepala kita: apakah bayar qris kena biaya tambahan sebenarnya diperbolehkan secara aturan? Rasanya pasti kesel banget, […]

Baca selengkapnya
bayar pakai qris vs kartu debit

Bayar Pakai QRIS vs Kartu Debit: 5 Perbandingan Biar Ga Boncos

Pernah nggak kamu berdiri di depan kasir, sudah siap mau bayar, tapi tiba-tiba bingung mau buka aplikasi e-wallet buat scan kode atau justru merogoh dompet buat ambil kartu? Dilema antara bayar pakai qris vs kartu debit ini bukan cuma soal mana yang lebih keren atau kekinian, tapi juga soal efisiensi, keamanan, dan yang paling penting: […]

Baca selengkapnya
solusi transaksi qris gagal saldo terpotong

5 Solusi QRIS Gagal Saldo Terpotong: Cara Refund Saldo Tuntas

Pernah merasa jantung mau copot gara-gara pas lagi bayar kopi favorit atau belanja di minimarket, tiba-tiba muncul notifikasi ‘transaksi gagal’ tapi saldo di rekening justru berkurang? Kalau iya, kamu nggak sendirian. Kejadian saldo terpotong saat transaksi QRIS tidak berhasil adalah salah satu masalah teknis yang paling sering dikeluhkan pengguna e-wallet dan perbankan digital saat ini. […]

Baca selengkapnya